Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali menunjukkan penurunan pada awal perdagangan pekan ini. Dikutip dari Investasi, mata uang garuda dibuka pada level Rp 17.679 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa, 19 Mei 2026.
Catatan tersebut memperlihatkan mata uang rupiah mengalami pelemahan sebesar 0,06% jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari sebelumnya. Pada penutupan perdagangan terdahulu, rupiah berada di level Rp 17.668 per dolar AS.
Kondisi penurunan yang dialami rupiah ini bergerak searah dengan sebagian besar mata uang lain di kawasan Asia yang juga sedang tertekan.
Hingga pukul 09.00 WIB, won Korea Selatan tercatat sebagai mata uang yang mengalami koreksi paling dalam di Asia setelah anjlok sebesar 0,56%. Pelemahan ini kemudian diikuti oleh dolar Taiwan yang juga mengalami penurunan sebesar 0,19%.
Selanjutnya, yen Jepang ikut tergelincir sebesar 0,11% dan dolar Singapura mengalami tekanan sebesar 0,09%. Pergerakan negatif ini juga menular pada baht Thailand yang terpantau terkoreksi sebesar 0,08%.
Sementara itu, dolar Hong Kong juga terlihat mengalami pelemahan tipis sebesar 0,02% terhadap mata uang utama global tersebut.
Di sisi lain, terdapat beberapa mata uang Asia yang justru berhasil berbalik menguat di tengah tekanan eksternal pagi ini.
Peso Filipina tampil sebagai mata uang dengan lonjakan penguatan tertinggi di Asia setelah mencatatkan kenaikan sebesar 0,07%. Langkah positif ini diikuti oleh yuan China yang menguat sebesar 0,06% serta ringgit Malaysia yang terpantau naik tipis sebesar 0,02%.
| Mata Uang | Perubahan Nilai | Status Pergerakan |
|---|---|---|
| Won Korea Selatan | 0,56% | Melemah |
| Dolar Taiwan | 0,19% | Melemah |
| Yen Jepang | 0,11% | Melemah |
| Dolar Singapura | 0,09% | Melemah |
| Baht Thailand | 0,08% | Melemah |
| Rupiah Indonesia | 0,06% | Melemah |
| Dolar Hong Kong | 0,02% | Melemah |
| Ringgit Malaysia | 0,02% | Menguat |
| Yuan China | 0,06% | Menguat |
| Peso Filipina | 0,07% | Menguat |