Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi hingga menyentuh level Rp17.400 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 5 Mei 2026. Pelemahan mata uang garuda ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik global serta penurunan cadangan devisa nasional, sebagaimana dilansir dari Suara.
Kondisi pasar uang yang tertekan tersebut berdampak pada lonjakan harga komoditas impor dan bahan baku industri. Sektor elektronik, pangan, hingga industri plastik diprediksi akan mengalami kenaikan harga yang signifikan dalam waktu dekat.
Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, memberikan penegasan mengenai dampak langsung dari pelemahan kurs tersebut terhadap stabilitas harga barang di masyarakat.
"Kita lihat bahwa hari ini harga-harga semua mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Kita melihat bahwa barang-barang impor, elektronik, pupuk, kemudian komoditas, kacang kedelai, kemudian gandum ya ini pun juga mengalami kenaikan," ujar Ibrahim Assuaibi, Pengamat Pasar Uang.
Kenaikan biaya produksi diproyeksikan akan merembet ke sektor konsumsi harian akibat naiknya harga bahan baku kemasan.
"Harga plastik mengalami kenaikan dan ini dampaknya cukup luar biasa. Melihat kondisi fiskal yang sedikit lebih jelek, kemudian cadangan debisa pun juga nyusut. Ini harus hati-hati apakah pertumbuhan ekonomi sesuai dengan target pemerintah di atas 5,5 persen atau di bawah 5,5 persen," ucap Ibrahim Assuaibi.
Ibrahim menilai posisi rupiah saat ini masih berisiko mengalami tekanan lebih lanjut dalam jangka pendek.
"Rupiah yang mengalami pelemahan sudah di atas Rp 17.400. Target saya sendiri dalam minggu ini adalah di Rp 17.550. Kemungkinan besar, kemungkinan akan tercapai," imbuh Ibrahim Assuaibi.
Analisis pasar menunjukkan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran memicu investor untuk mengalihkan aset mereka ke instrumen yang lebih aman atau safe haven.
"Kemudian, penyebab lainnya ukraina yang melakukan penyerangan dengan menggunakan drone terhadap wilayah, rusia kilang-kilang minyak dibombardir dan ini mengakibatkan produksi kilang minyak di Rusia ini mengalami penurunan. 10 persen kemungkinan besar ini mengalami penurunan, sehingga ini berdampak terhadap penguatan harga minyak mentah baik grain maupun WTI crude oil," pungkas Ibrahim Assuaibi.