Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot ke level Rp17.827 per dolar AS pada perdagangan Rabu (27/5/2026) pagi. Pelemahan mata uang Garuda sebesar 0,18 persen atau 32 poin ini terjadi di tengah momentum Hari Raya Idul Adha akibat tekanan sentimen domestik serta volatilitas pasar global.
Berdasarkan data Bloomberg yang dilansir CNN Indonesia pada pukul 09.50 WIB, rupiah terus terdepresiasi setelah pada penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026) berada di posisi Rp17.795 per dolar AS. Secara tahun berjalan (year to date), pelemahan rupiah telah mencapai 6,69 persen dan melampaui rentang tertinggi 52 minggu sebelumnya di angka Rp17.837 per dolar AS.
Kondisi ini bertolak belakang dengan mayoritas mata uang di Asia dan negara maju yang terpantau menguat terhadap dolar AS, seperti yuan China yang naik 0,04 persen dan euro Eropa sebesar 0,07 persen. Di sisi lain, perbankan domestik seperti Bank Mandiri, BCA, dan BNI menetapkan harga jual dolar AS pada kisaran Rp17.770 hingga Rp17.810 melalui berbagai layanan kurs.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai penurunan nilai tukar rupiah ini tidak sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi nasional yang masih terjaga dengan baik. Guna menjaga stabilitas, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perbendaharaan telah mengintervensi pasar Surat Berharga Negara (SBN) untuk mengendalikan imbal hasil (yield) obligasi.
"Kan ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini nggak masuk akal sebenarnya. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental," ujar Purbaya saat ditemui di kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta Selatan, Rabu (27/5/2026).
Purbaya memastikan pemerintah tidak akan melakukan uji ketahanan (stress test) ulang terhadap Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Simulasi anggaran diklaim telah memperhitungkan risiko pelemahan rupiah serta kenaikan harga minyak dunia hingga mencapai 100 dolar AS per barel.
"Ya, saya stress. Nggak (ada stress test), kita udah hitung, pada waktu simulasi 100 dolar per barel itu, asumsi rupiahnya juga sudah kita perhitungkan. Jadi nggak ada masalah saya nggak harus hitung ulang APBN-nya," terang Purbaya.
Kondisi pasar obligasi yang terkendali diklaim mulai menarik kembali aliran modal asing masuk ke Indonesia. Purbaya menegaskan pemerintah bersiap meluncurkan kebijakan lanjutan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar mata uang domestik.
"Tapi gini, walaupun rupiah melemah, kan bond yield-nya turun. Karena aksi dari pemerintah, aksi dari teman-teman kita di (Direktorat Jenderal) Perbendaharaan, untuk sedikit membeli, supaya yield-nya agak terkendali," terang Purbaya.
Arus modal asing di pasar obligasi diharapkan dapat terus bertahan melalui intervensi berkala tersebut.
"Jadi selama bond market terkendali, kemauan investor untuk asing ya, terutamanya untuk melakukan investasi dan pasti juga bond kita akan terjaga juga. Kita sudah mulai melihat aliran masuk modal asing ke pasar obligasi kita. Dan ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang akan membantu nilai tukar rupiah dengan lebih signifikan," jelasnya.
Dari sisi analisis pasar, faktor internal dinilai menjadi pemicu utama depresiasi rupiah di saat indeks dolar AS bergerak dalam rentang terbatas. Kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dianggap belum cukup meredam gejolak arus modal keluar.
"Investor sekarang mengantisipasi serentetan data penting minggu depan, di antaranya manufaktur, perdagangan, dan inflasi Indonesia untuk panduan prospek suku bunga BI ke depannya," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
Langkah pengetatan moneter dan pemangkasan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai terlambat oleh pasar, sementara implementasi ekspor satu pintu melalui BUMN PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) masih memicu keraguan investor terkait transparansi.