Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menembus level psikologis baru hingga mencapai angka Rp 17.600 pada perdagangan Jumat (15/5/2026) pagi. Kondisi ini memicu kekhawatiran terkait potensi lonjakan harga barang dan penurunan daya beli masyarakat akibat tekanan imported inflation.
Data Morningstar yang dilansir dari Money menunjukkan kurs 1 dollar AS tercatat setara Rp 17.603,20 pada pukul 09.03 WIB. Sebelumnya, mata uang garuda ditutup pada level Rp 17.529 per dollar AS dan sempat bergerak di kisaran Rp 17.540 hingga Rp 17.550 saat pembukaan pasar.
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mendesak otoritas moneter dan fiskal segera memperkuat langkah mitigasi untuk menekan dampak negatif fluktuasi kurs. Ia menyoroti bahwa ketidakpastian pasar internasional dan pergeseran modal asing menjadi faktor utama pelemahan ini.
“Kalau pelemahan Rupiah ini tidak dimitigasi dengan cepat, dampaknya bisa langsung terasa ke biaya produksi, harga barang impor, sampai harga kebutuhan masyarakat,” tegas Misbakhun dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (15/5/2026).
Politisi tersebut menekankan pentingnya stabilisasi yang presisi agar kepercayaan pasar tetap terjaga tanpa menguras cadangan devisa secara berlebihan. Bank Indonesia diharapkan melakukan intervensi terukur pada pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pasar Surat Berharga Negara (SBN).
“Yang dijaga bukan cuma angka kursnya. Yang lebih penting itu kepercayaan pasar dan kepastian bagi pelaku usaha. Komunikasi kebijakan harus cepat, jelas, dan kredibel,” katanya.
Misbakhun juga meminta optimalisasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) dan kesiapan Kementerian Keuangan dalam mengantisipasi dampak pada APBN, terutama bagi sektor industri padat karya. Perlunya relaksasi fiskal atau insentif bahan baku impor menjadi salah satu poin yang ia garis bawahi.
“Jangan sampai pelemahan Rupiah ujung-ujungnya menaikkan biaya produksi lalu dibebankan lagi ke harga barang di masyarakat,” ujarnya.
Pemerintah diharapkan menjaga stabilitas harga pangan agar tidak memperburuk kondisi ekonomi warga di tengah volatilitas nilai tukar global yang masih tinggi.
“Kalau itu terjadi, daya beli bisa ikut tertekan,” sambung Misbakhun.
Komisi XI DPR RI berkomitmen mengawal sinergi dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional dari ancaman risiko geopolitik dan kenaikan harga minyak dunia.
“Momentum pertumbuhan ekonomi yang sudah terbangun ini harus dijaga bersama,” pungkasnya.
Misbakhun menambahkan bahwa koordinasi kebijakan antarlembaga harus dilakukan secara cepat guna merespons dinamika pasar yang sangat dinamis.
“Karena itu respons kebijakan tidak boleh lambat dan harus benar-benar terkoordinasi,” lanjut Misbakhun.
Tekanan terhadap rupiah diperberat oleh kenaikan harga minyak mentah dunia serta sentimen risk off investor akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memprediksi rupiah bisa menguji level yang lebih rendah jika faktor eksternal terus memburuk.
“Jika Brent bertahan di atas 110 dollar AS per barrel dan arus modal asing belum pulih, rupiah bisa menguji Rp 17.800,” ujar Josua Pardede dilansir dari Money.
Analisis serupa disampaikan oleh Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong yang mencatat kenaikan harga komoditas membebani mata uang regional secara signifikan.
“Rupiah dan mata uang regional terpantau melemah cukup besar terhadap dollar AS oleh harga minyak mentah dunia yang kembali naik,” kata Lukman Leong sebagaimana dilaporkan Money.