Rupiah Melemah ke Rp18.187 Per Dolar AS Imbas Krisis Kepercayaan

Rupiah Melemah ke Rp18.187 Per Dolar AS Imbas Krisis Kepercayaan

Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp18.187 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin, 8 Mei 2026. Tekanan terhadap mata uang garuda ini dipicu oleh perpaduan sentimen negatif global, ketegangan di Timur Tengah, serta krisis kepercayaan terhadap situasi domestik.

Kondisi pasar modal domestik juga mengalami tekanan signifikan. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG turut terkoreksi sebesar 4,52 persen menuju level 5.342 karena hilangnya kepercayaan dari investor asing di Indonesia.

Nilai tukar rupiah terus tertekan terhadap dolar AS hingga penutupan perdagangan, seperti dilansir dari Suara. Bahkan, pergerakan rupiah terus mencatatkan rekor terburuknya.

Berdasarkan data kompilasi pasar spot Bloomberg, rupiah ditutup melemah ke level Rp18.187 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 151 poin atau setara dengan 0,8 persen.

Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan penyebab rupiah tertekan dikarenakan kombinasi sentimen dalam negeri maupun luar negeri.

"Rupiah ditutup melemah cukup besar terhadap dolar AS di tengah sentimen risk off global dan penguatan dolar AS serta eskalasi di Timur Tengah," kata Lukman Leong.

Lukman Leong menambahkan bahwa rupiah juga tertekan oleh sentimen domestik yang telah menjadi krisis kepercayaan. Data yang menunjukkan kembali menurunnya cadangan devisa juga ikut menekan rupiah.

"With the current speed of depreciation, 19,000 could be reached within 1-2 weeks," kata Lukman Leong.

Pelemahan nilai tukar tidak hanya dialami oleh rupiah, melainkan juga terjadi pada beberapa mata uang Asia lainnya. Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah ambles 1,03 persen.

Selanjutnya, rupee India mengalami koreksi sebesar 0,74 persen dan peso Filipina ditutup anjlok 0,31 persen. Kondisi ini disusul oleh dolar Taiwan yang ditutup ambles 0,29 persen pada perdagangan hari ini.

Selain itu, baht Thailand tercatat turun 0,26 persen dan dolar Hong Kong melemah tipis 0,008 persen terhadap the greenback. Pergerakan ini menegaskan dominasi dolar AS di pasar regional.

Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melesat 1,73 persen. Yuan China juga naik 0,06 persen dan dolar Singapura terkerek 0,05 persen, disusul yen Jepang yang menguat tipis 0,04 persen.

Pergerakan nilai tukar mata uang di kawasan Asia pada perdagangan hari ini terdokumentasi dalam rincian berikut.

Daftar Perubahan Nilai Tukar Mata Uang Asia terhadap Dolar AS
Nama Mata UangPersentase PerubahanStatus Pergerakan
Won Korea Selatan+1,73 persenMenguat
Yuan China+0,06 persenMenguat
Dolar Singapura+0,05 persenMenguat
Yen Jepang+0,04 persenMenguat
Dolar Hong Kong-0,008 persenMelemah
Baht Thailand-0,26 persenMelemah
Dolar Taiwan-0,29 persenMelemah
Peso Filipina-0,31 persenMelemah
Rupee India-0,74 persenMelemah
Rupiah Indonesia-0,84 persenMelemah
Ringgit Malaysia-1,03 persenMelemah

Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan

Senasib dengan rupiah, IHSG juga mengalami pelemahan pada penutupan Senin ini ke level 5.342 atau turun 4,52 persen. Penurunan tajam ini sejalan dengan meluasnya aksi jual oleh para pelaku pasar.

Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, pelemahan IHSG ini imbas dri hilangnya kepercayaan investor asing ke pasar saham Indonesia.

"Selain itu, sentimen Iran dan Israel saling melakukan serangan, sehingga mengancam gencatan senjata yang rapuh. Akibatnya harga minyak mentah naik lebih dari 4 persen, sehingga meningkatkan risiko akan potensi kenaikan inflasi yang berlanjut serta potensi pelebaran defisit APBN 2026," tulis Phintraco Sekuritas.

Secara teknikal, IHSG ditutup di bawah level MA200 monthly, sehingga potensi penurunan IHSG lebih lanjut masih berpeluang terbuka secara teknikal. Kondisi ini menunjukkan posisi pasar saham yang rentan.

Artikel terkait

Rekomendasi