Rupiah Melemah ke Level Rp17.529 per Dolar AS pada Mei 2026

Rupiah Melemah ke Level Rp17.529 per Dolar AS pada Mei 2026

Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sebesar 0,66 persen atau turun 115 poin ke level Rp17.529 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026). Dilansir dari Bisnis.com, pelemahan mata uang Garuda ini terjadi beriringan dengan penguatan indeks dolar AS sebesar 0,31 persen ke posisi 98,25.

Research and Development ICDX, Tiffani Safinia menjelaskan bahwa pergerakan rupiah yang menembus angka psikologis Rp17.500 dipicu oleh kombinasi tekanan eksternal dan faktor domestik. Dari sisi global, keperkasaan dolar AS masih disokong oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga tinggi The Fed yang diperkirakan bertahan lebih lama.

"Selain itu, ada peningkatan permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah, serta kenaikan harga minyak dunia yang meningkatkan tekanan terhadap rupiah. Pasar juga masih menunggu arah inflasi AS yang akan menentukan ekspektasi kebijakan moneter The Fed ke depan," ujar Tiffani Safinia, Research and Development ICDX.

Analisis internal menunjukkan bahwa kondisi pasar dalam negeri turut terbebani oleh sentimen aliran modal asing. Tiffani menyebutkan bahwa isu transparansi dan struktur pasar modal Indonesia yang sempat disorot oleh MSCI memicu sikap hati-hati dari para investor global terhadap aset-aset domestik.

Faktor lain yang memperberat posisi rupiah adalah kekhawatiran mengenai kapasitas fiskal pemerintah, terutama beban subsidi yang membengkak saat kurs melemah. Selain itu, terdapat peningkatan permintaan dolar AS untuk keperluan pembayaran utang luar negeri oleh korporasi yang jatuh tempo pada periode April hingga Mei.

Risiko terhadap perekonomian nasional perlu diwaspadai, khususnya pada potensi kenaikan inflasi dari barang impor atau imported inflation. Depresiasi nilai tukar ini berisiko menaikkan biaya impor energi, bahan baku, serta barang konsumsi yang nantinya berdampak pada kenaikan harga di tingkat konsumen.

"Namun demikian, pelemahan rupiah juga memberikan sisi positif terbatas bagi sektor berorientasi ekspor karena meningkatkan daya saing harga produk ekspor Indonesia. Selain itu, Bank Indonesia masih memiliki ruang stabilisasi melalui intervensi pasar valas, optimalisasi instrumen moneter, serta penguatan kebijakan pengendalian permintaan dolar AS domestik," ujar Tiffani Safinia.

Pihak ICDX menekankan bahwa volatilitas nilai tukar diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek selama ketidakpastian geopolitik global belum mereda. Pergerakan rupiah saat ini dinilai lebih banyak didorong oleh sentimen pasar global dan arus modal jangka pendek dibandingkan fundamental lainnya.

Di sisi lain, laporan Trading Economics memproyeksikan bahwa mata uang Indonesia akan berada di level Rp17.388 per dolar AS pada akhir kuartal kedua 2026. Meski demikian, terdapat potensi pelemahan yang lebih dalam saat memasuki penghujung tahun ini.

"Rupiah Indonesia diperkirakan akan melemah hingga pertengahan 2026, dengan perkiraan menunjukkan di kisaran Rp17.300 sampai lebih dari Rp17.500 per dolar AS pada akhir 2026," tulis laporan Trading Economics.

Artikel terkait

Rekomendasi