Rupiah Melemah Dekati Rp18000 per Dolar AS Akibat Tekanan Global

Rupiah Melemah Dekati Rp18000 per Dolar AS Akibat Tekanan Global

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami pelemahan signifikan hingga mendekati level Rp18.000 pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026. Tekanan eksternal dari dinamika geopolitik global dan kondisi domestik memicu fluktuasi mata uang nasional ke tingkat terendah sejak krisis moneter 1997/1998.

Data Bloomberg menunjukkan mata uang Amerika Serikat menguat 0,68 persen ke level Rp17.960 pada Rabu siang, setelah ditutup pada posisi Rp17.839 pada hari Selasa sebelumnya. Gejolak ini tetap terjadi meski Bank Indonesia sebelumnya telah menaikkan BI rate sebesar 50 basis poin.

Bank Indonesia menyatakan bakal mengoptimalkan instrumen kebijakan guna menjaga stabilitas pasar keuangan. Otoritas moneter tersebut juga menerapkan pembatasan pembelian valas tanpa underlying serta memperluas kerja sama penggunaan mata uang lokal dengan beberapa negara mitra dagang.

"BI terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan," kata Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi BI melalui keterangan tertulis.

Pihak bank sentral menambahkan bahwa koordinasi dengan pemangku kepentingan seperti pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, dan pelaku usaha terus diperkuat demi menjaga ketahanan eksternal ekonomi nasional.

"Untuk itu, BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional," tegas Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi BI.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan dari sisi global, konflik di Timur Tengah telah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, sementara dari sisi domestik terjadi kenaikan kebutuhan valas untuk impor energi serta pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo.

"Hari ini rupiah kembali mengalami pelemahan akibat menguatnya minyak mentah dunia, WTI di 94,58 (dolar AS per barel), kemudian Brent crude oil pun mengalami penguatan di 96,72," kata Ibrahim Assuaibi, Pengamat pasar uang.

Ketegangan antara Iran dan Israel serta kebuntuan perundingan Amerika Serikat-Iran dinilai memperburuk inflasi global karena harga energi bertahan tinggi, yang kemudian memicu potensi perpanjangan periode suku bunga tinggi oleh bank sentral AS.

"Kita lihat bahwa salah satu pejabat dari bank sentral AS, Hammack, yang dia mengatakan bahwa mungkin perlu bertindak segera jika tren inflasi tidak meredah," jelas Ibrahim Assuaibi, Pengamat pasar uang.

Eskalasi pergerakan ekonomi ini diproyeksikan bakal berdampak pada kebijakan suku bunga acuan The Fed ke depan.

"Ini yang mengindikasikan bahwa kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga satu kali dalam tahun 2026," sambung Ibrahim Assuaibi, Pengamat pasar uang.

Pemerintah disarankan untuk segera memperkuat daya beli masyarakat melalui program bantuan sosial serta mendorong digitalisasi guna menghadapi dampak lanjutan dari depresiasi nilai tukar ini.

"Kita harus tahu bahwa pemerintah harus mendorong industrialisasi dan ekonomi biru. Ini yang sangat sulit sekali sampai sekarang. Kenapa? Kita lihat bahwa pembentukan pertumbuhan ekonomi itu 50 persen dari daya beli masyarakat," tutur Ibrahim Assuaibi, Pengamat pasar uang.

Artikel terkait

Rekomendasi