Rupiah Melemah Tembus Rp17.529 per Dolar AS Akibat Tekanan Global

Rupiah Melemah Tembus Rp17.529 per Dolar AS Akibat Tekanan Global

Nilai tukar rupiah merosot hingga melewati level psikologis baru sebesar Rp17.529 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026) akibat kombinasi tekanan eksternal dan ketidakpastian ekonomi global yang meningkat. Penurunan mata uang Garuda ini terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS yang merangkak naik ke posisi 98,25.

Data RTI Infokom menunjukkan mata uang rupiah mengalami pelemahan sebesar 0,66 persen atau setara 115 poin, sebagaimana dilansir dari Market. Kondisi ini diprediksi masih akan menekan posisi rupiah pada perdagangan Rabu (13/5/2026) seiring dengan tingginya volatilitas di pasar keuangan internasional.

Research and Development ICDX, Tiffani Safinia menjelaskan bahwa penembusan level Rp17.500 mencerminkan beban berat dari sisi global maupun domestik. Ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga tinggi The Fed yang bertahan lebih lama menjadi faktor utama yang memperkuat posisi mata uang Amerika Serikat.

"Selain itu, ada peningkatan permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah, serta kenaikan harga minyak dunia yang meningkatkan tekanan terhadap rupiah. Pasar juga masih menunggu arah inflasi AS yang akan menentukan ekspektasi kebijakan moneter The Fed ke depan," ujar Tiffani Safinia, Research and Development ICDX.

Sentimen negatif dari dalam negeri turut memperkeruh kondisi nilai tukar melalui aliran modal asing dan isu transparansi pasar modal oleh MSCI. Selain itu, investor mencermati beban fiskal pemerintah terkait subsidi energi dan kewajiban pembayaran utang luar negeri korporasi yang meningkat pada periode April hingga Mei.

Risiko inflasi barang impor atau imported inflation kini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi nasional akibat depresiasi rupiah. Kenaikan biaya impor bahan baku dan energi berpotensi memicu kenaikan harga barang konsumsi di pasar domestik dalam waktu dekat.

"Namun demikian, pelemahan rupiah juga memberikan sisi positif terbatas bagi sektor berorientasi ekspor karena meningkatkan daya saing harga produk ekspor Indonesia. Selain itu, Bank Indonesia masih memiliki ruang stabilisasi melalui intervensi pasar valas, optimalisasi instrumen moneter, serta penguatan kebijakan pengendalian permintaan dolar AS domestik," ujar Tiffani Safinia, Research and Development ICDX.

Tiffani menegaskan bahwa selama ketidakpastian geopolitik global masih tinggi, volatilitas mata uang domestik akan tetap terjaga di level yang cukup lebar. Saat ini pergerakan harga lebih banyak ditentukan oleh sentimen jangka pendek dan arus modal keluar.

Laporan dari Trading Economics juga memberikan proyeksi mengenai tren nilai tukar hingga akhir tahun. Lembaga riset tersebut memperkirakan pelemahan masih akan berlanjut meskipun ada potensi fluktuasi pada akhir kuartal kedua.

"Rupiah Indonesia diperkirakan akan melemah hingga pertengahan 2026, dengan perkiraan menunjukkan di kisaran Rp17.300 sampai lebih dari Rp17.500 per dolar AS pada akhir 2026," tulis laporan Trading Economics.

Artikel terkait

Rekomendasi