Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi tajam setelah bursa domestik kembali beraktivitas pascalibur panjang. Berdasarkan data yang dikutip dari Investasi, mata uang Garuda melemah sebesar 1,1 persen dan bertengger di posisi Rp 17.668 per dolar AS.
Kemerosotan ini menjadi penurunan persentase intraday paling signifikan bagi mata uang lokal sejak April 2025. Performa tersebut menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan catatan kinerja paling buruk di kawasan regional.
Depresiasi ini memperpanjang tren negatif rupiah yang menyentuh rekor terendah kedua dalam kurun waktu sepekan. Kondisi tersebut sekaligus membawa mata uang Indonesia menuju performa bulan Mei terburuk sejak tahun 2016.
Tekanan berat terhadap nilai tukar rupiah bersumber dari kombinasi sentimen eksternal dan kecemasan internal. Gejolak harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh konflik bersenjata Iran menjadi faktor pendorong utama eksternal.
Dari dalam negeri, pasar mengkhawatirkan masalah disiplin fiskal serta maraknya aksi keluar dana asing. Sentimen negatif bertambah akibat isu independensi bank sentral dan tata kelola pasar saham pasca-penghapusan indeks terbaru MSCI.
Kondisi pasar diperparah oleh kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merosot lebih dari 3,7 persen ke level 6.475,24. Koreksi ini menandai pelemahan dalam sesi kelima berturut-turut hingga menyentuh titik terendah sejak akhir April.
Secara akumulatif, performa IHSG telah ambles melampaui angka 25 persen sepanjang tahun 2026 berjalan. Penurunan intertemporal ini mencerminkan tingginya volatilitas modal yang keluar dari pasar aset berisiko dalam negeri.
Intervensi Bank Indonesia dan Perbandingan Regional
Bank Indonesia terus berupaya menahan laju pelemahan nilai tukar rupiah melalui tindakan nyata di pasar valuta asing. Otoritas moneter berkomitmen mengoptimalkan instrumen kebijakan guna meredam volatilitas kurs mata uang.
Pertemuan kebijakan moneter minggu ini menjadi perhatian besar pelaku pasar untuk melihat arah pelonggaran atau pengetatan. Saat ini, suku bunga BI masih bertahan di level 4,75 persen setelah tujuh kali berturut-turut tidak mengalami perubahan.
Tekanan likuiditas global tidak hanya melanda Indonesia, melainkan merembet ke sejumlah negara berkembang di Asia. Rupee India turut terhempas ke titik terendah sepanjang sejarah pada level 96,303 per dolar AS.
Mata uang India telah terdepresiasi sekitar 5,5 persen sejak konflik Iran mengerek harga komoditas minyak pada akhir Februari. Catatan ini menjadikan rupee sebagai mata uang dengan kinerja paling buruk di Asia sepanjang tahun ini.
Analis MUFG, Michael Wan, menyatakan bahwa importir minyak seperti rupee India dan peso Filipina menghadapi hantaman ganda dari penguatan dolar AS. Sementara itu, unit sensitif imbal hasil seperti rupiah terbebani oleh hambatan dari sisi domestik.
Kondisi berbeda tampak pada mitra dagang utama regional, di mana yuan Tiongkok terpantau bergerak stabil di tengah perlambatan produksi pabrik April. Sebaliknya, baht Thailand bergerak stagnan berkat sokongan pertumbuhan triwulanan dari sektor ekspor.
Di sisi lain, ringgit Malaysia tercatat melemah sebesar 0,7 persen ke posisi 3,9750 per dolar AS. Pergerakan mata uang negeri jiran tersebut fluktuatif mendekati batas psikologis 4,000 dalam tren kerugian tiga sesi beruntun.