Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat resmi menembus level psikologis baru hingga mencapai Rp18.015 pada perdagangan Kamis (4/6/2026) pagi akibat rumor pasar dan sentimen eksternal.
Berdasarkan data Refinitiv pukul 09.11 WIB yang dilansir CNBC Indonesia, mata uang Garuda terdepresiasi sebesar 0,42 persen, menandai posisi terlemah sepanjang sejarah setelah sebelumnya ditutup pada level Rp17.940.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa langsung membantah spekulasi publik yang menyebutkan bahwa anjloknya nilai tukar rupiah ini disebabkan oleh pengelolaan kebijakan fiskal pemerintah yang tidak terarah.
"Banyak yang bilang gara-gara fiskalnya berantakan. Nanti kita ketemu kapan? Minggu depan ya? Ada update fiskal bulanan itu, fiskal APBN kita. Itu bulan Mei membaik kan dibanding bulan April," kata Purbaya di kawasan DPR, Jakarta, dikutip Kamis (4/6/2026).
Purbaya menjelaskan bahwa kondisi keuangan negara dalam lima bulan pertama tahun ini masih dalam koridor yang sangat aman, di mana defisit fiskal hingga Mei 2026 hanya menyentuh angka 0,7 persen dari produk domestik bruto.
"Kalau saya kasih bocoran, itu defisitnya tinggal 0,7% dalam 5 bulan. Kalau kita hitung cara para ekonom yang di luar itu ngitung, sekian bulan kali sekian bulan saya hitung, ikutin aja, 12 per 5 kalikan 0,7 kira-kira, kalau saya enggak salah hitung ya, 1,7-1,8 persen dari PDB," tegas Purbaya.
Menurut catatan Kementerian Keuangan, angka defisit ini masih berada jauh di bawah target maksimal anggaran tahunan yang telah ditetapkan oleh pemerintah yaitu sebesar 2,68 persen dari PDB atau setara Rp689,1 triliun.
"Jadi kalau di situ anggaran kita aman sekali. Cuma orang enggak akan pakai itu kan sekarang. Pasti mereka akan lihat yang paling jelek. Tapi nggak apa-apa," ucap Purbaya.
Selain kondisi defisit yang terkendali, sektor pendapatan negara juga menunjukkan performa positif melalui pertumbuhan penerimaan pajak yang mencapai lebih dari 22 persen dibandingkan periode tahun lalu.
"Di bulan Mei juga surplusnya, primary balance positif lagi. Lebih tinggi dibanding bulan April dan pendapatan pajak kita lebih bagus dibanding tahun lalu. Tumbuhnya 22 persen lebih," papar Purbaya.
Kenaikan signifikan pada sektor perpajakan ini diklaim terjadi berkat keberhasilan rangkaian program reformasi tata kelola yang dijalankan oleh jajaran Kementerian Keuangan selama beberapa waktu terakhir.
"Jadi reformasi di perpajakan sudah menghasilkan peningkatan pendapatan perpajakan yang amat signifikan. Sehingga anggaran kita amat aman," tegas Purbaya.
Sehari sebelumnya, Purbaya juga sempat menyoroti keberadaan isu-isu tidak berdasar yang berkembang di kalangan pelaku pasar keuangan sehingga memicu sentimen negatif terhadap pergerakan mata uang domestik.
"Kalau kita lihat kan tiba-tiba saja pelemahannya, satu dua hari ini kan. Ada isu macam-macam, ada rumor macam-macam di pasar," ujar Purbaya kepada wartawan di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Salah satu kabar burung yang beredar adalah instruksi kepada industri perbankan nasional untuk melakukan pengujian ketahanan terhadap skenario lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat di atas angka Rp18.000.
"Ada yang bilang saya suruh perbankan melakukan stress test kalau dolar AS Rp 18.000 lebih, padahal saya nggak pernah isu seperti itu. Jadi banyak isu-isu di pasar yang membuat sentimen ke rupiah negatif," tambahnya.
Terkait otoritas stabilisasi kurs, Purbaya menegaskan bahwa pengendalian nilai tukar sepenuhnya merupakan kewenangan dari bank sentral, sementara kementeriannya fokus mengoptimalkan fondasi riil perekonomian.
"Kalau kita lihat kewajiban saya adalah menjaga fondasi ekonomi saja supaya ekonominya berjalan terus semakin cepat, semakin cepat, semakin cepat karena pada akhirnya kita percaya rupiah akan ditentukan oleh fondasi ekonominya," tutur Purbaya.
Purbaya optimis bahwa dengan fondasi ekonomi makro yang terus diperkuat, nilai tukar rupiah ke depan akan bergerak mencari titik keseimbangan baru yang mencerminkan realitas sektor riil.
"Kalau masalah nilai tukar, bank sentral adalah ahlinya. Kita serahkan saja ke bank sentral," sambung Purbaya.
Di sisi lain, analis pasar keuangan menilai dinamika global turut andil besar dalam menekan pergerakan mata uang di kawasan Asia, khususnya akibat eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah.
"Rupiah diperkirakan masih melemah terhadap dolar AS yang menguat di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Data ketenagakerjaan ADP and indeks sektor jasa ISM Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan juga turut menopang penguatan dolar AS," ujar Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong kepada CNNIndonesia.com, Kamis (4/6).
Selain faktor geopolitik global, Lukman melihat sentimen dari dalam negeri masih cenderung berat, namun level psikologis yang tertembus diperkirakan memicu respons kebijakan dari otoritas moneter.
"Sentimen domestik masih buruk, namun kembali mendekati level psikologis baru, kemungkinan Bank Indonesia akan melakukan intervensi secara agresif," katanya.
Perdagangan nilai tukar rupiah sepanjang hari ini diperkirakan oleh analis akan berfluktuasi secara dinamis dalam rentang area Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar Amerika Serikat.