Nilai tukar rupiah ditutup merosot ke posisi Rp17.706 per dolar AS pada perdagangan Selasa (19/5) sore akibat tekanan dari sentimen eksternal dan domestik. Mata uang Indonesia mengalami penurunan sebesar 38 poin atau melemah 0,22 persen jika dibandingkan dengan perdagangan pada hari sebelumnya.
Depresiasi nilai tukar rupiah ini terjadi bersamaan dengan melemahnya mayoritas mata uang di wilayah Asia terhadap dolar AS. Berdasarkan data pasar, yuan China mengalami penurunan sebesar 0,05 persen, peso Filipina melemah 0,02 persen, dan ringgit Malaysia ikut terdepresiasi sebesar 0,01 persen.
Sebaliknya, penguatan dolar AS juga memicu pelemahan pada sejumlah mata uang negara maju. Tercatat euro Eropa mengalami penurunan 0,21 persen, poundsterling Inggris terkoreksi 0,24 persen, dolar Australia melemah 0,66 persen, dolar Kanada turun 0,12 persen, dan franc Swiss terdepresiasi sebesar 0,18 persen.
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pergerakan negatif rupiah dipicu oleh situasi geopolitik di Timur Tengah serta penyesuaian kebijakan bank sentral Amerika Serikat. Langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menunda serangan ke Iran menjadi pusat perhatian pelaku pasar global saat ini.
"Investor tetap berhati-hati karena pasar mengevaluasi bagaimana arah kebijakan The Fed dapat berkembang di bawah kepemimpinan baru," ujar Ibrahim kepada CNNIndonesia.com.
Selain faktor global, Ibrahim Assuaibi menyoroti dampak penurunan nilai mata uang ini terhadap ketahanan pangan di dalam negeri. Ketergantungan yang tinggi terhadap impor untuk beberapa komoditas pangan strategis membuat stabilitas harga pangan nasional menjadi terancam.
"Kondisi pelemahan rupiah ini otomatis meningkatkan biaya impor karena mayoritas transaksi dilakukan menggunakan dolar AS. Pada akhirnya, peningkatan biaya impor ini berisiko menimbulkan kenaikan harga pangan di dalam negeri," kata Ibrahim.
Menurut proyeksi Ibrahim, rambatan tekanan kurs ini akan segera memengaruhi harga berbagai produk pangan olahan pada semester II 2026. Beberapa komoditas yang rentan terdampak di antaranya adalah mi instan, roti, tahu-tempe, hingga susu. Nilai tukar rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah kembali pada perdagangan besok di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.750 per dolar AS.