Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada rentang Rp17.380 hingga Rp17.430 per dolar AS pada Selasa, 12 Mei 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya risiko geopolitik global di kawasan Teluk yang menekan mata uang Asia.
Kondisi pasar keuangan menunjukkan tekanan terhadap mata uang Garuda setelah sebelumnya tercatat terkoreksi 32 poin ke level Rp17.414 per dolar AS pada Senin, 11 Mei 2026, dilansir dari Market. Pada saat yang sama, indeks dolar AS justru menguat 0,09 persen ke posisi 97,98.
Tren negatif ini juga melanda mayoritas mata uang di kawasan Asia. Yen Jepang mengalami depresiasi 0,28 persen, won Korea melemah 0,37 persen, sementara baht Thailand dan dolar Hong Kong masing-masing turun 0,81 persen dan 0,01 persen terhadap mata uang Negeri Paman Sam tersebut.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penguatan dolar AS dipicu oleh sikap keras Presiden AS Donald Trump yang menolak proposal perdamaian terbaru dari Iran. Trump menilai tanggapan Teheran tidak dapat diterima, sehingga merusak harapan pasar akan de-eskalasi konflik.
"Komentar tersebut meningkatkan risiko geopolitik. Fokus pasar tetap tertuju pada Selat Hormuz yang sebagian besar masih tertutup sejak konflik dimulai," ujar Ibrahim, Direktur PT Traze Andalan Futures.
Selain faktor Iran, para investor kini sedang memantau rencana kunjungan kenegaraan Trump ke China untuk menemui Presiden Xi Jinping di Beijing pada akhir pekan ini. Agenda tersebut akan membahas isu perdagangan hingga konflik Timur Tengah, di samping penantian rilis data inflasi dan penjualan ritel AS.
"Terjaganya keyakinan konsumen didorong oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini [IKE] yang naik ke level 116,5, mencerminkan optimisme masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja dan daya beli," pungkas Ibrahim, Direktur PT Traze Andalan Futures.
Padahal, sentimen dari dalam negeri tergolong positif setelah Bank Indonesia melaporkan kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 ke level 123,0. Namun, kuatnya faktor eksternal terkait antisipasi kebijakan suku bunga Federal Reserve dan ketegangan politik tetap memberikan tekanan besar pada posisi rupiah.