Rupiah Melemah ke Level Rp 17.517 Akibat Gejolak Timur Tengah

Rupiah Melemah ke Level Rp 17.517 Akibat Gejolak Timur Tengah

Nilai tukar rupiah di pasar spot mengalami penyusutan sebesar 42 poin atau 0,24 persen ke posisi Rp 17.517 per dollar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (14/5/2026). Penurunan nilai mata uang Garuda ini terjadi di tengah penguatan indeks dollar yang dipicu oleh meningkatnya eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Dilansir dari Money, pergerakan negatif rupiah terpantau pada pukul 12.00 WIB seiring dengan memanasnya situasi di Selat Hormuz. Ketegangan tersebut melibatkan potensi perang terbuka antara Amerika Serikat dan Iran, yang berdampak pada lonjakan harga minyak dunia serta penguatan posisi mata uang AS sebagai aset aman.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa performa dollar AS memang menunjukkan tren penguatan sejak memasuki pasar Amerika pada hari sebelumnya. Kondisi eksternal ini menjadi tekanan utama bagi stabilitas nilai tukar domestik.

"Saya melihat bahwa rupiah hari ini diperdagangkan melemah karena menguatnya dollar AS pada perdagangan hari ini, ya bahkan kemarin pun juga pada memasuki pasar Amerika, indeks dollar terus mengalami penguatan," ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Ibrahim menekankan bahwa wilayah Selat Hormuz masih menjadi kekhawatiran terbesar bagi pelaku pasar keuangan global saat ini. Hal ini berkaitan dengan laporan serangan terhadap fasilitas minyak milik Iran yang diduga menyeret keterlibatan beberapa negara di kawasan tersebut.

"Harus diingat bahwa permasalahan gejolak geopolitik di Timur Tengah ini masih terus dijadikan sebagai momok, terutama adalah di Selat Hormuz. Kemudian muncul informasi bahwa yang awalnya Uni Emirat Arab melakukan penyerangan terhadap instalasi minyak Iran di Selat Hormuz, kemudian muncul Arab Saudi," papar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Kondisi keamanan di jalur distribusi minyak dunia tersebut terancam karena Iran mulai meningkatkan kewaspadaan militer untuk menghadapi potensi konfrontasi fisik. Sekitar 20 persen pasokan minyak global diketahui melewati jalur Selat Hormuz, sehingga gangguan di wilayah ini memicu kepanikan pasar.

Selain faktor global, sentimen negatif juga datang dari dalam negeri terkait keraguan terhadap data pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2026. Angka pertumbuhan sebesar 5,61 persen dinilai kurang mencerminkan realitas daya beli masyarakat dan perlambatan di sektor manufaktur.

Artikel terkait

Rekomendasi