Nilai tukar rupiah mengalami koreksi sebesar 0,3 persen hingga menyentuh level Rp17.529 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (14/5/2026) di tengah pelemahan mayoritas mata uang Asia. Berdasarkan data Bloomberg yang dilansir Kontan, penurunan ini dipicu oleh rapuhnya sentimen global akibat tekanan inflasi Amerika Serikat dan meningkatnya ketegangan geopolitik.
Kondisi ini diikuti oleh pelemahan mata uang regional lainnya seperti yen Jepang yang turun 0,05 persen ke 157,96 dan dolar Singapura yang terkoreksi 0,04 persen menjadi 1,2733 per dolar AS. Sementara itu, data perbankan nasional yang dihimpun Kompas TV menunjukkan nilai jual rupiah fisik di Bank Mandiri, BNI, dan BRI bahkan sempat menyentuh angka Rp17.630 per dolar AS pada Rabu (13/5).
Anggota Komisi XI DPR RI, Marwan Cik Asan, memberikan catatan khusus terkait volatilitas mata uang yang mulai menembus angka psikologis Rp17.500 ini. Ia meminta pemerintah dan Bank Indonesia segera melakukan langkah stabilisasi yang terukur guna menjaga kepercayaan pasar dari tekanan eksternal maupun domestik.
"Cadangan devisa Indonesia masih berada pada level aman, rasio utang pemerintah terhadap PDB masih terkendali, sistem perbankan relatif sehat, dan rezim nilai tukar mengambang memberikan ruang penyesuaian alami terhadap guncangan global," kata Marwan Cik Asan dalam keterangan tertulis, Kamis (14/5).
Meski fundamental dinilai masih kuat, Marwan mengingatkan bahwa lonjakan kurs dapat memicu imported inflation serta menekan daya beli masyarakat. Ia menekankan pentingnya komunikasi kebijakan yang transparan dari bank sentral untuk meredam aksi spekulasi di pasar keuangan.
"Dalam situasi tekanan pasar, persepsi sering kali lebih menentukan dibandingkan data fundamental itu sendiri. Karena itu, forward guidance yang jelas menjadi sangat penting untuk meredam spekulasi," ujarnya.
Selain intervensi pasar, politikus Partai Demokrat ini mendorong pengawasan ketat terhadap repatriasi devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam. Ia menilai kepastian hukum dalam kebijakan DHE sangat krusial agar para pelaku usaha tetap menempatkan dananya di dalam negeri.
"Kebijakan DHE harus konsisten, tidak berubah-ubah, dan memberikan kepastian hukum agar pelaku usaha tetap percaya," tuturnya.
Marwan juga menyoroti penggunaan skema Local Currency Settlement (LCS) sebagai solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Terkait kebijakan moneter, ia mengingatkan agar kenaikan suku bunga dilakukan secara hati-hati supaya tidak mematikan sektor investasi dan konsumsi domestik.
"Tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan hanya tekanan global, tetapi bagaimana menjaga konsistensi kebijakan dan membangun kepercayaan pasar," katanya.
Menurut pandangan Marwan, stabilitas jangka panjang hanya bisa dicapai melalui reformasi struktural dan disiplin fiskal yang kredibel. Ia menyarankan otoritas terkait untuk tetap menggunakan pendekatan yang berbasis data dalam mengambil keputusan.
"Karena itu, pendekatan gradual dan data dependent menjadi pilihan paling rasional agar keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga," ujar Marwan.
| Tanggal | Nilai Tukar (Per Dolar AS) | Status |
|---|---|---|
| 7 Mei 2026 | Rp17.333 | Awal Periode |
| 8 Mei 2026 | Rp17.382 | Melemah |
| 11 Mei 2026 | Rp17.414 | Melemah |
| 12 Mei 2026 | Rp17.529 | Melemah |
| 13 Mei 2026 | Rp17.461 | Menguat Tipis |
| 14 Mei 2026 | Rp17.529 | Melemah Kembali |