Rupiah Melemah ke Rp17.795 per Dolar AS Akibat Sentimen Domestik

Rupiah Melemah ke Rp17.795 per Dolar AS Akibat Sentimen Domestik

Nilai tukar rupiah ambruk sebesar 50 poin atau 0,25 persen ke level Rp17.795 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa sore (26/5/2026). Penurunan mata uang Garuda yang mendekati level psikologis Rp17.800 ini dipicu oleh sentimen negatif domestik, dilansir dari Suara.

Kondisi penutupan tersebut memperlihatkan kemerosotan dibandingkan posisi Senin kemarin yang berada pada level Rp17.744. Penurunan terjadi di saat indeks dolar AS (DXY) sebenarnya sedang mengalami tren pelemahan namun relatif terbatas.

Rapor merah pada pasar saham dalam negeri menjadi indikator belum pulihnya minat risiko investor asing. Hal tersebut membuat kebijakan Bank Indonesia dalam menaikkan suku bunga acuan pada pekan lalu belum mampu memulihkan kepercayaan pasar sepenuhnya.

"Pelemahan rupiah hari ini lebih banyak dipengaruhi faktor domestik. DXY walau naik, namun relatif terbatas, sehingga tekanan terhadap rupiah berasal dari sentimen dalam negeri," ujar Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures ketika dihubungi, Selasa (26/5/2026).

Para investor global saat ini cenderung mengambil sikap wait and see dan menjauhi aset Surat Berharga Negara (SBN). Keraguan pasar tersebut semakin diperkuat oleh rencana pembentukan lembaga baru yang bernama Danantara Sumber Daya Indonesia.

"Investor juga ragu terhadap Indonesia dengan adanya pembentukan Danantara Sumber Daya Indonesia. Selain itu, pasar mencermati defisit neraca transaksi berjalan yang cukup besar serta rencana ekspor one door (satu pintu) melalui Danantara yang sejauh ini belum direspons positif," urai Lukman Leong.

Ketidakpastian global terkait respons Iran terhadap proposal perdamaian dari Amerika Serikat turut membayangi pergerakan nilai tukar ke depan. Namun, mata uang nasional masih berpeluang berbalik menguat jika bank sentral melakukan langkah nyata di pasar valuta asing.

"Kecuali ada perkembangan positif seputar proposal damai AS dan intervensi BI, rupiah diperkirakan masih akan melemah," pungkas Lukman Leong.

Artikel terkait

Rekomendasi