Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah sebesar 38 poin atau 0,22 persen ke level Rp 17.706 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Pergerakan kurs ini dipicu oleh ketidakpastian situasi geopolitik di Timur Tengah dan evaluasi pelaku pasar terhadap kebijakan bank sentral AS, sebagaimana dilansir dari Money.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah didorong oleh langkah pasar global yang mencermati keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menunda serangan militer terhadap Iran demi membuka ruang negosiasi. Penundaan aksi militer tersebut bertujuan mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir melalui jalur kesepakatan diplomatik.
Kondisi di Timur Tengah memicu tekanan besar pada Selat Hormuz yang mengangkut seperlima pasokan minyak dunia, sehingga memunculkan kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Di sisi lain, proses komunikasi diplomatik antara AS dan Iran melalui Pakistan dilaporkan masih berjalan lambat meskipun muncul laporan mengenai rencana pencabutan sanksi ekspor minyak Iran yang kemudian dibantah pejabat AS.
Pelaku pasar global juga memperhatikan rencana pelantikan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) menggantikan Jerome Powell pada Jumat mendatang. Selain faktor eksternal tersebut, sentimen domestik terkait ketergantungan impor komoditas pangan utama seperti gandum, kedelai, bawang putih, gula, dan daging turut menekan posisi rupiah karena berisiko memicu inflasi impor pada semester II 2026.
Industri pengolahan dalam negeri mulai menghadapi kenaikan biaya bahan baku akibat pelemahan kurs, terutama untuk komoditas gandum dan kedelai yang dampaknya dapat terasa dalam hitungan minggu.
"Kenaikan harga bahan baku langsung ditransmisikan ke konsumen dalam bentuk kenaikan harga produk di tingkat konsumen," ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.
Tekanan harga komoditas pangan ini tercatat lebih cepat memengaruhi produk olahan dibandingkan dengan bahan baku mentah. Efek berantai dari depresiasi mata uang tersebut merambat melalui kenaikan biaya produksi, sektor energi, jalur distribusi, kemasan, hingga biaya logistik nasional.