Nilai tukar rupiah diproyeksikan mengalami depresiasi terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari Jumat (22/5/2026) karena dipengaruhi faktor domestik dan global, dilansir dari Money.
Mata uang Garuda diperkirakan bergerak pada rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.725 per dollar AS setelah ditutup melemah 0,28 persen ke level Rp 17.654 per dollar AS pada perdagangan Kamis (21/5/2026).
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memaparkan bahwa sentimen negatif di dalam negeri muncul dari respons pelaku pasar terhadap rencana pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
Para investor saat ini tengah mencermati regulasi baru terkait tata kelola ekspor komoditas yang nantinya akan dipusatkan di bawah naungan BUMN baru tersebut, di samping adanya pengalihan aset menjelang pengumuman MSCI pada Juni mendatang.
"Hari ini, rupiah diperkirakan akan berfluktuasi di sekitar Rp 17.600-17.725 per dollar AS," ujarnya Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank.
Dari sisi global, performa dollar AS terangkat oleh rilis data ketenagakerjaan dan manufaktur negara tersebut yang melampaui prediksi pasar, seperti penurunan klaim pengangguran awal menjadi 209.000 dan kenaikan Preliminary S&P Global PMI Manufaktur AS ke angka 55,3 pada Mei 2026.
"Rilis data ini menunjukkan bahwa ekonomi AS tetap tangguh, sehingga mengurangi ekspektasi pelonggaran moneter oleh The Fed," ucap Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank.
Kendati demikian, apresiasi dollar AS tertahan oleh munculnya optimisme perdamaian setelah pemerintah Iran menyebut proposal terbaru dari AS mulai memperkecil perbedaan pandangan di antara kedua belah pihak.
Kondisi tersebut membuat indeks dollar AS hanya menguat tipis sebesar 0,17 persen ke posisi 99,26 dollar AS pada akhir perdagangan hari Kamis waktu setempat.