Rupiah Melemah Tembus Rp17.600 Komisi XI DPR Panggil Bank Indonesia

Rupiah Melemah Tembus Rp17.600 Komisi XI DPR Panggil Bank Indonesia

Komisi XI DPR RI memanggil Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo ke Gedung DPR Senayan pada Senin (18/5/2026) akibat nilai tukar rupiah yang terus tertekan hingga menembus level Rp17.600 per dollar AS.

Pelemahan mata uang ini memicu kekhawatiran terhadap penurunan daya beli riil masyarakat pedesaan sebesar 3 hingga 5 persen serta ancaman pemutusan hubungan kerja jika kondisi terus memburuk, sebagaimana dilansir dari Money.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa komoditas pangan dan energi menjadi sektor yang paling rentan terhadap depresiasi kurs karena biaya produksi pokok seperti pupuk, pakan ternak, dan obat-obatan masih berbasis impor.

"Pangan dan energi menjadi komponen yang paling sensitif terhadap depresiasi kurs," ujar Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Core pada Minggu (17/5/2026).

Yusuf menambahkan, penurunan kemampuan belanja ini akan menyasar rumah tangga berpendapatan Rp2 juta hingga Rp3 juta per bulan karena para produsen mengonversi biaya produksi yang menggunakan dollar AS ke dalam rupiah lalu membebankannya kepada konsumen.

Sementara itu, dalam rapat kerja di parlemen, anggota Komisi XI DPR RI Harris Turino mempertanyakan efektivitas seluruh instrumen yang telah dikerahkan oleh Bank Indonesia untuk menahan kejatuhan nilai tukar.

"Maka pertanyaan kritis adalah semua instrumen yang dimiliki sudah dilakukan tetapi kenapa rupiah tetap berlanjut mengalami depresiasi?" tanya Harris Turino, Anggota Komisi XI DPR RI.

Langkah-langkah yang telah diambil BI meliputi intervensi pasar, menaikkan yield SRBI menjadi 6,40 persen, menurunkan batas pembelian dollar AS dari 10.000 dollar AS menjadi 50.000 dollar AS per orang, hingga membeli Surat Berharga Negara sebesar Rp332 triliun pada 2025 dan Rp133 triliun pada tahun ini.

Harris menyatakan bahwa meskipun tekanan global eksternal sangat masif, terdapat persoalan domestik serius yang juga melanda sektor keuangan dalam negeri.

"Kemungkinan penyebabnya adalah yang Bapak katakan di presentasi tekanan global sangat besar ini memang diakui tekanan global sangat besar tetapi harus diakui juga ada masalah serius di domestik," kata Harris Turino.

Hingga saat ini, pihak Bank Indonesia dilaporkan masih terus berupaya melakukan berbagai langkah stabilisasi guna memperkuat kembali nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Artikel terkait

Rekomendasi