Rupiah Melemah ke Rp 17.382 Akibat Ketangguhan Ekonomi Amerika Serikat

Rupiah Melemah ke Rp 17.382 Akibat Ketangguhan Ekonomi Amerika Serikat

Nilai tukar rupiah terpantau masih berada di bawah tekanan besar menyusul rilis data pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan performa lebih kuat dari perkiraan semula. Kondisi ini memicu kekhawatiran para pelaku pasar mengenai potensi bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed, untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Dilansir dari Money, Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan adanya penambahan 115.000 pekerjaan pada sektor nonfarm payroll selama April 2026 secara musiman. Meskipun angka ini lebih rendah dibandingkan pencapaian bulan Maret yang menyerap 185.000 pekerjaan, realisasi April tersebut secara signifikan melampaui ekspektasi konsensus Dow Jones yang hanya memproyeksikan tambahan 55.000 pekerjaan.

Solidnya pasar tenaga kerja di Negeri Paman Sam ini muncul di tengah ekspektasi terjadinya perlambatan ekonomi global. Data tersebut memberikan sinyal bahwa ekonomi AS masih memiliki ketahanan yang cukup kuat, sekaligus meredam harapan pasar akan adanya pemangkasan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menjelaskan bahwa data tenaga kerja yang positif ini memperkecil peluang pelonggaran kebijakan moneter oleh The Fed. Menurutnya, pasar kini berekspektasi bahwa suku bunga tinggi akan tetap dipertahankan selama indikator ekonomi AS masih menunjukkan kekuatan, terutama pada sektor ketenagakerjaan.

“Ini bisa menahan peluang pemangkasan suku bunga acuan AS ke depan sehingga data ini mendukung nilai dollar AS. Ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan AS yang mengecil peluangnya, masih menjaga nilai tukar dollar AS tetap kuat terhadap nilai tukar lainnya, termasuk rupiah,” ujar Ariston saat dihubungi pada Jumat (8/5/2026) malam.

Kombinasi antara sektor tenaga kerja yang tangguh dan tingkat inflasi yang belum melandai menjadi pendorong utama penguatan dollar AS di pasar global. Situasi tersebut menyebabkan investor cenderung mengamankan aset mereka ke dalam instrumen berbasis dollar AS yang dianggap lebih aman dan menawarkan imbal hasil menarik.

“Apalagi bila data-data penting AS seperti data tenaga kerja dan inflasi masih menunjukan penguatan. Oleh karena itu, rupiah masih belum aman, masih ada potensi melemah,” paparnya.

Pada penutupan perdagangan spot Jumat (8/5/2026), mata uang Garuda tercatat mengalami depresiasi sebesar 49 poin atau sekitar 0,28 persen. Pergerakan ini membawa rupiah berakhir di level Rp 17.382 per dollar AS.

Selain faktor data ekonomi, pasar sempat merespons positif pernyataan Presiden Donald Trump mengenai kemungkinan jalur perdamaian antara AS dan Iran. Sentimen ini memberikan sedikit ruang bagi rupiah untuk menguat secara terbatas karena adanya koreksi pada indeks dollar AS.

Namun, tekanan bagi mata uang nasional tidak hanya datang dari faktor eksternal, melainkan juga dari sentimen domestik terkait laporan rasio utang pemerintah. Ariston menyoroti kenaikan rasio utang Indonesia yang kini berada di atas angka 40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Hari ini keluar berita soal rasio utang negara yang di atas 40 persen dari PDB. Rasio ini makin naik ya dari sebelumnya yang di kisaran 30 persen. Namun memang kalau dibandingkan dengan negara-negara lain, rasio utang ini masih di bawah. Tapi tetap bisa menjadi faktor penekan rupiah,” tukas dia.

Artikel terkait

Rekomendasi