Rupiah Tembus Rp17.500 Per Dollar AS Akibat Tekanan Global

Rupiah Tembus Rp17.500 Per Dollar AS Akibat Tekanan Global

Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi signifikan hingga melewati level Rp17.500 per dollar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (14/5/2026). Gejolak ini dinilai sebagai cerminan rapuhnya struktur ekonomi domestik yang diperparah oleh tekanan eksternal global yang kian berat.

Ekonom Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita menganggap situasi ini sebagai perpaduan antara guncangan dunia dan kerentanan dalam negeri, sebagaimana dilansir dari Money. Kondisi pasar saat ini disebutnya sebagai fenomena yang sangat kompleks.

"Penembusan level Rp17.500 ini adalah alarm keras bahwa fundamental ekonomi kita sedang rapuh dan rentan terhadap guncangan global," tulis Ronny, Ekonom ISEAI.

Faktor geopolitik di Timur Tengah, khususnya ketegangan di Selat Hormuz, memicu lonjakan harga minyak mentah Brent di atas 110 dollar AS per barel. Sebagai importir minyak neto, Indonesia menanggung beban impor energi yang semakin membengkak di tengah kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve.

"Kenaikan harga minyak mentah Brent hingga di atas 110 dollar AS per barrel meningkatkan beban impor energi Indonesia," tulis laporan tersebut.

Ronny menggarisbawahi bahwa struktur pertumbuhan ekonomi nasional terlalu bergantung pada konsumsi domestik serta belanja pemerintah. Ia mencatat adanya ketidakpastian fiskal dan kelembagaan yang membuat investor global ragu terhadap pasar keuangan Indonesia.

"Keraguan pasar terhadap transparansi bursa dan sustainabilitas belanja negara menjadi beban tambahan bagi aset berdenominasi rupiah," tulis laporan tersebut.

Bank Indonesia (BI) dinilai menghadapi kesulitan dalam menyeimbangkan stabilitas kurs dan pertumbuhan ekonomi. Intervensi pasar yang dilakukan sejauh ini dianggap belum efektif meredam pelemahan nilai tukar rupiah secara menyeluruh.

"Dilema trilema moneter," tulis laporan itu.

Penurunan cadangan devisa juga menjadi sorotan setelah terkuras untuk pembayaran utang luar negeri dan intervensi pasar. Posisi cadangan devisa Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar 146,2 miliar dollar AS, turun dari 148,2 miliar dollar AS pada bulan sebelumnya.

"Ancaman saat ini lebih bersifat slow death akibat erosi daya saing dan tekanan fiskal yang berkepanjangan," tulis Ronny.

Sektor manufaktur kini mulai terdampak kenaikan biaya bahan baku impor, sementara masyarakat menghadapi risiko inflasi pada produk farmasi hingga elektronik. Ronny menekankan perlunya koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang lebih kuat untuk memperbaiki struktur pasar modal nasional.

Artikel terkait

Rekomendasi