Rupiah Tembus Rp17.410 Saat Ekonomi Kuartal I-2026 Tumbuh 5,61 Persen

Rupiah Tembus Rp17.410 Saat Ekonomi Kuartal I-2026 Tumbuh 5,61 Persen

Nilai tukar rupiah ditutup pada level terlemah sepanjang masa di angka Rp17.410 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (5/5/2026) di tengah pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang melampaui ekspektasi pasar.

Data Refinitiv menunjukkan mata uang Garuda melemah 0,26 persen dan sempat bergerak di rentang Rp17.380 hingga Rp17.445 per dolar AS, sekaligus memperpanjang tren penurunan selama lima hari beruntun menurut laporan CNBC Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi nasional pada periode tersebut tumbuh solid sebesar 5,61 persen secara tahunan, lebih tinggi dari capaian kuartal IV-2025 yang tercatat 5,39 persen.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,61% pada kuartal I-2026," kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Angka ini melampaui proyeksi konsensus 12 lembaga yang memperkirakan pertumbuhan di level 5,40 persen, meskipun tekanan eksternal dari penguatan indeks dolar AS tetap menekan posisi rupiah secara harian.

Menanggapi volatilitas tersebut, Bank Indonesia menyatakan komitmennya untuk melakukan intervensi terukur di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar sesuai dengan fundamental ekonomi nasional.

"Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia Erwin G. Hutapea.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga melakukan pemantauan intensif dan stress test terhadap industri jasa keuangan untuk memitigasi dampak eskalasi konflik Iran dengan AS dan Israel di Timur Tengah.

"Fokus utama OJK tentu adalah menjaga stabilitas sektor jasa keuangan sebagai modalitas keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam konferensi pers RDKB.

Wanita yang akrab disapa Kiki tersebut menjelaskan bahwa ketidakpastian global memicu volatilitas pasar dan aliran dana keluar dari negara berkembang, sehingga OJK memperpanjang kebijakan buyback saham tanpa RUPS hingga September 2026.

"Kami mengharapkan dengan adanya kebijakan tersebut akan menjaga stabilitas di pasar saham Indonesia," kata Kiki.

Selain menjaga pasar saham, OJK memperketat pengawasan terhadap Posisi Devisa Neto (PDN) harian pada lembaga jasa keuangan untuk memastikan ketahanan di tengah fluktuasi nilai tukar valuta asing.

"Stabilitas yang kita jaga ini tentunya akan menjadi modalitas utama untuk kita terus mendorong pertumbuhan ke depan," kata Kiki.

Di sisi lain, OJK melaporkan bahwa likuiditas pasar modal tetap terjaga dengan rata-rata spread bid-ask saham di level 1,33 kali serta pertumbuhan investor yang mencapai 26,49 juta orang.

"Di tengah dinamika tersebut, resiliensi dan likuiditas pasar modal domestik secara keseluruhan tetap terjaga dengan baik," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi.

Hasan menambahkan bahwa nilai aktiva bersih reksa dana tumbuh menjadi Rp711,89 triliun pada April 2026, sementara penghimpunan dana korporasi telah mencapai angka Rp56,35 triliun.

"Investor non-residen juga mencatatkan net buy sebesar Rp8,8 triliun di pasar SBN secara month-to-date hingga 29 April 2026," ungkap Hasan.

OJK turut memperkuat penegakan hukum dengan menjatuhkan sanksi administratif berupa denda total Rp85,04 miliar kepada 97 pihak hingga April 2026 demi menjaga integritas pasar keuangan nasional.

"Adanya ketidakpastian penyelesaian konflik Iran dengan AS dan Israel yang mengakibatkan fluktuasi di pasar keuangan, OJK melakukan pemantauan intensif untuk memastikan ketahanan sektor jasa keuangan, termasuk melakukan stress test dengan berbagai skenario terhadap industri jasa keuangan serta memperkuat pengawasan lembaga jasa keuangan," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi.

Kiki menekankan pentingnya penguatan manajemen risiko secara menyeluruh oleh lembaga jasa keuangan, terutama dalam melakukan penilaian terhadap eksposur risiko pasar dan kredit secara berkala.

"Kondisi ini mendorong harga minyak tetap volatile dan bertahan pada level tinggi," ujar Kiki.

Meskipun kondisi global penuh ketidakpastian, indikator permintaan domestik seperti Indeks Keyakinan Konsumen masih berada di zona optimistis dengan cadangan devisa mencapai 148,2 miliar dolar AS pada Maret 2026.

"Di domestik, tadi baru saja diumumkan oleh BPS (Badan Pusat Statistik), ekonomi nasional tumbuh solid di level 5,61 persen, ditopang kontribusi konsumsi rumah tangga dan peningkatan pengeluaran pemerintah," terangnya.

Artikel terkait

Rekomendasi