Nilai tukar rupiah di pasar spot mengalami depresiasi terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (14/5/2026) dengan pelemahan sebesar 53,50 poin. Dilansir dari Money, mata uang Indonesia merosot 0,31 persen hingga menyentuh level Rp 17.529 per dollar AS.
Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa kondisi ini dipicu oleh perdebatan internal mengenai validitas data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026. Angka pertumbuhan sebesar 5,61 persen dinilai berada di luar ekspektasi pemerintah, Bank Indonesia, serta para pengamat ekonomi.
"Nah dari segi internal ya, kita tahu bahwa ada perdebatan tentang data pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama yang di luar ekspektasi pemerintah, Bank Indonesia maupun para ekonom atau analis yang semuanya itu adalah di bawah 5,61 persen," ujar Ibrahim, Analis Mata Uang.
Kritik juga datang dari kalangan akademisi yang menyebut riset mereka menunjukkan pertumbuhan ekonomi domestik sebenarnya hanya berkisar antara 4,6 hingga 4,8 persen. Ibrahim mencatat adanya kontradiksi antara angka pertumbuhan yang tinggi dengan penurunan pada sektor manufaktur nasional.
"Kemudian ada satu sanggahan pernyataan dari akademisi ya. Jadi melalui riset bahwa sebenarnya ya pertumbuhan ekonomi kalau dihitung-hitung itu hanya di 4,6-4,8 persen," paparnya Ibrahim, Analis Mata Uang.
Guna mengatasi polemik data tersebut, Ibrahim menyarankan agar otoritas terkait di Indonesia mengadopsi sistem publikasi data bertahap. Mekanisme ini meniru Amerika Serikat yang merilis angka awal, revisi pertama, hingga revisi kedua sebagai angka final.
"Seharusnya Indonesia sudah ada perubahan untuk merilis data pertumbuhan ekonomi per kuartalan mengikuti gaya Amerika. Yang pertama dirilis kemudian dilakukan revisi. Ada revisi pertama, lalu revisi kedua yang menjadi final," pungkas Ibrahim, Analis Mata Uang.
Menurutnya, penyesuaian angka sangat mungkin terjadi setelah dilakukan evaluasi lanjutan terhadap data yang masuk. Hal ini penting untuk memastikan transparansi dan akurasi kondisi ekonomi di lapangan yang dirasakan masyarakat.
"Bisa saja pada saat nanti direvisi pertama itu hanya 5 persen. Kemudian revisi kedua final ternyata bukan 5 persen, tetapi hanya 4,6 persen," lanjut Ibrahim, Analis Mata Uang.
Selain faktor domestik, tekanan terhadap rupiah diperberat oleh penguatan indeks dollar AS akibat memanasnya suhu geopolitik di Timur Tengah. Konflik di wilayah Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasar terhadap kelancaran distribusi energi dunia.
"Saya melihat bahwa rupiah hari ini diperdagangkan melemah karena menguatnya dollar AS pada perdagangan hari ini, ya bahkan kemarin pun juga pada memasuki pasar Amerika, indeks dollar terus mengalami penguatan," ucap Ibrahim, Analis Mata Uang.
Ketegangan meningkat seiring laporan serangan terhadap fasilitas minyak Iran yang melibatkan sejumlah negara di kawasan tersebut. Situasi ini memicu potensi perang terbuka yang melibatkan kekuatan militer besar, termasuk Amerika Serikat dan Iran.
"Harus ingat bahwa permasalahan gejolak geopolitik di Timur Tengah ini masih terus dijadikan sebagai momok, terutama adalah di Selat Hormuz. Kemudian muncul informasi bahwa yang awalnya Uni Emirat Arab melakukan penyerangan terhadap instalasi minyak Iran di Selat Hormuz, kemudian muncul Arab Saudi," tukas Ibrahim, Analis Mata Uang.
Eskalasi di Selat Hormuz menjadi perhatian serius pelaku pasar karena jalur tersebut melayani sekitar 20 persen distribusi minyak global. Ancaman terhadap jalur pelayaran internasional ini secara langsung mendorong kenaikan harga minyak mentah di pasar dunia.