Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tercatat berada di level Rp 17.406 pada Rabu (6/5/2026) siang seiring dengan rilis laporan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026. Pergerakan ini menunjukkan pelemahan setelah sebelumnya sempat menguat di pasar spot saat pembukaan perdagangan pagi hari.
Data yang dilansir dari Money menunjukkan mata uang Garuda sempat naik 0,24 persen ke posisi Rp 17.383 per dollar AS pada pembukaan Rabu pagi. Posisi tersebut lebih kuat dibandingkan penutupan Selasa (5/5/2026) yang berada di area Rp 17.424 per dollar AS.
Head of Research di Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata menilai tekanan terhadap rupiah hingga mencapai kisaran Rp 17.400 menunjukkan pasar melihat melampaui angka pertumbuhan ekonomi makro. Kondisi ini dipengaruhi oleh tingginya pertumbuhan impor dibandingkan ekspor.
"Pertumbuhan impor yang mencapai 7,18 persen secara tahunan, jauh lebih tinggi dibanding ekspor yang hanya 0,90 persen secara tahunan, menunjukkan ekspansi ekonomi saat ini juga meningkatkan kebutuhan valuta asing dan memperbesar tekanan eksternal," kata Liza Camelia Suryanata, Head of Research di Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Liza menambahkan bahwa situasi ini merupakan indikasi pertumbuhan tanpa pendalaman atau growth without depth. Secara angka pertumbuhan terlihat kuat, namun kualitas dan keberlanjutannya masih perlu diuji lebih lanjut melalui indikator riil.
"Validasi nyata dari jargon pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan harus tercermin pada indikator riil yang berkualitas seperti kenaikan upah riil, penurunan kemiskinan dan pengangguran, serta penguatan konsumsi non-subsidi dan tabungan masyarakat bawah," ucap Liza Camelia Suryanata, Head of Research di Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Analisis pasar menunjukkan bahwa arus modal asing ke instrumen keuangan negara menjadi pembuktian krusial bagi kekuatan ekonomi. Menurutnya, angka pertumbuhan 5,61 persen saat ini lebih didorong oleh stimulus fiskal pemerintah.
"Tanpa perbaikan indikator-indikator tersebut, angka 5,61 persen lebih tepat dibaca sebagai pertumbuhan berbasis stimulus fiskal dan proyek tahap awal, bukan perbaikan kesejahteraan yang merata dan berkelanjutan," ucap Liza Camelia Suryanata, Head of Research di Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini sangat bergantung pada belanja negara dan distribusi tunjangan hari raya. Lonjakan konsumsi pemerintah tercatat mencapai 21,81 persen secara tahunan, yang menjadi faktor pembeda signifikan.
Salah satu pendorong agresif ekonomi berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang meningkatkan jumlah dapur produksi secara drastis. Penyerapan tenaga kerja dan perputaran uang harian dalam program ini mencerminkan ekspansi lebih dari 2.400 persen.
"Hal ini mencerminkan ekspansi lebih dari 2.400 persen secara tahunan. Namun demikian, dampak ekonomi dari lonjakan ini masih sangat terkonsentrasi pada rantai pasok tertentu, sehingga belum sepenuhnya mencerminkan peningkatan daya beli masyarakat secara luas," ungkap Liza Camelia Suryanata, Head of Research di Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Sektor investasi juga mendapat sokongan dari proyek hilirisasi dan peran Danantara melalui sejumlah proyek pembangunan fisik. Hingga kuartal I-2026, terdapat 13 proyek hilirisasi yang telah memulai tahap groundbreaking dengan nilai mencapai Rp 120 triliun.
"Hal ini menunjukkan kontribusi terhadap GDP sudah mulai tercatat secara acountansi, namun efek multiplier terhadap ekonomi riil masih berada pada tahap awal dan belum sepenuhnya terasa," ungkap Liza Camelia Suryanata, Head of Research di Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Meski sektor konstruksi meningkat, sektor pertambangan justru terkontraksi sebesar 2,14 persen akibat pembatasan produksi dan kebijakan bea keluar. Hal ini membuat sektor berbasis ekspor belum optimal menopang pertumbuhan di tengah kenaikan harga komoditas.
"Hal ini memperlihatkan bahwa sektor berbasis ekspor belum berkontribusi optimal dalam menopang pertumbuhan kali ini, bahkan di kala harga komoditas sudah mulai bullish," ucap Liza Camelia Suryanata, Head of Research di Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Faktor geopolitik di Timur Tengah turut memberikan tekanan besar terhadap mata uang rupiah. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Teluk menyebabkan risiko gangguan pasokan energi dan kenaikan harga minyak dunia.
“Militer AS mengatakan telah menghancurkan enam kapal serang kecil Iran selama pertempuran di selat tersebut. Ketegangan meningkat lebih lanjut setelah serangan Iran menargetkan infrastruktur di Uni Emirat Arab, termasuk terminal minyak di pelabuhan Fujairah," ungkap Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.
Terlepas dari tekanan eksternal, Bank Indonesia menilai rupiah masih cukup tangguh dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya. Depresiasi rupiah tercatat sekitar 3,65 persen, lebih rendah dibandingkan peso Filipina atau baht Thailand.
“Pergerakan rupiah masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya,” ujar Erwin G. Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia.
Bank Indonesia menyatakan akan terus melakukan intervensi di berbagai pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah ini mencakup transaksi spot hingga pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder sesuai nilai fundamentalnya.
“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya,” kata Erwin G. Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia.