Rupiah Tembus Rp 17.597 Per Dolar AS Akibat Tekanan Fiskal Domestik

Rupiah Tembus Rp 17.597 Per Dolar AS Akibat Tekanan Fiskal Domestik

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot hingga menyentuh level terendah sepanjang sejarah pada penutupan perdagangan Jumat (15/5/2026). Penurunan tajam ini dipicu oleh akumulasi tekanan eksternal serta kekhawatiran pasar terhadap konsistensi kebijakan fiskal dan iklim investasi di dalam negeri.

Berdasarkan data perdagangan pasar spot yang dilansir dari Nasional, mata uang garuda ditutup pada level Rp 17.597 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 0,39 persen dibandingkan posisi hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.529 per dolar AS.

Kinerja mata uang domestik mencatatkan depresiasi sebesar 1 persen dalam kurun waktu sepekan terakhir. Jika ditarik lebih jauh dalam satu bulan terakhir, nilai tukar rupiah telah mengalami pelemahan total sekitar 2,645 persen terhadap mata uang Negeri Paman Sam.

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa pelemahan ini mencerminkan kondisi kompleks yang tidak hanya disebabkan oleh intervensi moneter. Faktor global, kondisi fiskal domestik, hingga persepsi investor terhadap arah kebijakan ekonomi menjadi penyumbang tekanan utama.

"Rupiah di kisaran Rp 17.500–17.600 sebenarnya mencerminkan akumulasi tekanan dari banyak sisi sekaligus, mulai dari faktor global, fiskal domestik, sampai persepsi investor terhadap arah kebijakan ekonomi," ujar Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.

Langkah Bank Indonesia dalam melakukan intervensi sejauh ini dinilai masih efektif untuk meredam kepanikan pasar yang berlebihan. Meskipun rupiah melemah dalam, volatilitas pasar dianggap masih terkendali dan belum menunjukkan adanya dislokasi ekstrem dibandingkan negara berkembang lainnya.

"Jadi persoalan rupiah sekarang sebenarnya bukan semata-mata kurang intervensi," kata Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.

Terdapat peningkatan premi risiko Indonesia yang membuat biaya menjaga stabilitas nilai tukar menjadi lebih tinggi bagi bank sentral. Pasar saat ini sedang menyoroti tiga aspek fundamental, yakni arah fiskal pemerintah terkait pelebaran defisit APBN, konsistensi pengambilan kebijakan, serta daya saing investasi nasional.

"Kalau tekanan rupiah berasal dari faktor struktural seperti kekhawatiran investor terhadap konsistensi kebijakan dan persepsi risiko fiskal, maka intervensi moneter hanya bisa membeli waktu," ujar Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.

Persoalan struktural ini membuat Bank Indonesia seolah menjadi garda terdepan dalam menangani masalah yang akarnya berada di luar kebijakan moneter. Ketergantungan pada instrumen moneter memiliki konsekuensi tersendali bagi pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.

"Yang terjadi sekarang justru BI menjadi semacam first responder untuk masalah yang akar utamanya ada di luar kebijakan moneter," kata Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.

Pemerintah dan otoritas terkait perlu memperhatikan penggunaan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang kini oustanding-nya hampir mencapai Rp 1.000 triliun. Meskipun efektif menyerap likuiditas, tingginya imbal hasil instrumen ini dapat mengurangi minat perbankan dalam menyalurkan kredit produktif ke masyarakat.

"Jadi ongkos mempertahankan rupiah pada akhirnya dibayar lewat ekonomi domestik yang tumbuh lebih lambat," jelas Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.

Peningkatan koordinasi antara kebijakan fiskal, sektor investasi, dan komunikasi kebijakan dinilai menjadi kunci utama untuk meredam tekanan nilai tukar ke depan. Hal ini dianggap lebih mendesak dibandingkan hanya terus menambah instrumen moneter baru di pasar keuangan.

"Dalam konteks sekarang, koordinasi fiskal, investasi, dan komunikasi kebijakan menjadi jauh lebih menentukan dibanding sekadar menambah instrumen moneter baru," tutup Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi