Rupiah Melemah ke Level 17.420 per Dollar AS Akibat Gejolak Global

Rupiah Melemah ke Level 17.420 per Dollar AS Akibat Gejolak Global

Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan terhadap dollar Amerika Serikat hingga menyentuh level Rp 17.420 pada pembukaan perdagangan Selasa (5/5/2026). Gejolak konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi global menjadi penyebab utama tekanan di pasar keuangan domestik.

Kondisi pasar keuangan saat ini dipengaruhi oleh lonjakan harga minyak mentah dunia. Dilansir dari Money, harga minyak Brent melonjak ke angka 114,44 dollar AS per barrel, sementara West Texas Intermediate berada di level 106,42 dollar AS per barrel akibat gangguan pasokan di wilayah konflik.

Meskipun berada dalam tren negatif, depresiasi nilai tukar rupiah dinilai masih lebih terkendali dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya. Bank Indonesia mencatat pelemahan rupiah berada di angka 3,65 persen sejak dimulainya konflik, angka yang lebih rendah dari penurunan mata uang pesaing di kawasan Asia.

Perbandingan Pelemahan Mata Utama Negara Berkembang
Mata UangPersentase Pelemahan
Peso Filipina6,58%
Baht Thailand5,04%
Rupee India4,32%
Peso Chile4,24%
Rupiah Indonesia3,65%
Won Korea2,29%

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea, menegaskan bahwa pergerakan ini merupakan dampak dari sentimen pasar global yang merata.

“Pergerakan rupiah masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya,” ujar Erwin di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Bank Indonesia menyatakan akan terus melakukan intervensi melalui berbagai instrumen pasar untuk menjaga stabilitas. Langkah ini mencakup transaksi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.

“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya,” kata Erwin.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memberikan pandangan mengenai dampak langsung kombinasi pelemahan mata uang dan tingginya harga energi terhadap harga barang di Indonesia.

"Kita lihat bahwa hari ini harga-harga semua mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Kita melihat bahwa barang-barang impor, elektronik, pupuk, kemudian komoditas, kacang kedelai, kemudian gandum, ya ini pun juga mengalami kenaikan," ujar Ibrahim.

Peningkatan biaya operasional juga merambah ke sektor industri kemasan akibat kenaikan harga bahan plastik. Ibrahim menyoroti pentingnya kehati-hatian pemerintah dalam menjaga target pertumbuhan ekonomi di tengah keterbatasan ruang kebijakan fiskal.

“Ini harus hati-hati, apakah sesuai dengan target pemerintah di atas 5,5 persen atau di bawah 5,5 persen,” ujar Ibrahim.

Penyesuaian program prioritas dan pencarian sumber pendanaan baru dianggap sebagai langkah krusial untuk menjaga ketahanan fiskal nasional saat ini.

“Nah ini yang harus diperhatikan sehingga pemerintah saat ini tugas pemerintah untuk mendapatkan “uang segar”, selain memindahkan dana-dana, menghentikan sementara untuk MBG, kemudian Koperasi Merah Putih juga dihentikan sementara,” tukas Ibrahim.

Artikel terkait

Rekomendasi