Rupiah Melemah ke Rp 17.529 Harga Elektronik Mulai Naik

Rupiah Melemah ke Rp 17.529 Harga Elektronik Mulai Naik

Pelemahan nilai tukar dollar AS terhadap rupiah mulai memberikan tekanan serius pada sektor industri elektronik di tanah air. Sejumlah perangkat rumah tangga seperti televisi dan pendingin ruangan (AC) dilaporkan mengalami lonjakan harga dalam beberapa pekan terakhir.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah ditutup pada posisi Rp 17.529 per dollar AS pada akhir perdagangan pasar spot, Rabu (13/5/2026). Secara year to date, mata uang Garuda telah melemah sekitar 5,1 persen, bahkan mencapai 18,7 persen dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Komoditi Elektronik Indonesia (Apkonik), Deny Irawan, menjelaskan bahwa situasi ini mulai mengubah pola belanja masyarakat. Dilansir dari Money, konsumen cenderung menunda rencana pembelian karena harga barang terus merangkak naik.

Ketergantungan industri terhadap pasokan luar negeri menjadi pemicu utama kenaikan harga ini. Deny menyebutkan bahwa mayoritas komponen inti masih didatangkan melalui jalur impor.

"Sebagian besar komponen elektronik yang digunakan industri dalam negeri, seperti semikonduktor, IC, panel display, sensor, kapasitor, hingga beberapa bahan baku manufaktur masih bergantung pada impor," ujar Deny kepada Kompas.com, Kamis (14/5/2026).

Karena transaksi pengadaan komponen tersebut didominasi oleh dollar AS, biaya produksi otomatis membengkak saat rupiah terdepresiasi. Meski demikian, penyesuaian harga di tingkat konsumen tidak selalu terjadi secara instan.

Menurut Deny, terdapat beberapa faktor yang menahan lonjakan harga mendadak, mulai dari ketersediaan stok lama hingga persaingan pasar yang sangat ketat di Indonesia.

"Banyak pelaku industri masih memiliki stok impor dengan kurs lama, sehingga kenaikan harga biasanya tertahan sementara. Produsen juga berupaya melakukan efisiensi agar kenaikan biaya tidak seluruhnya dibebankan kepada konsumen," ujarnya.

Laporan dari jaringan ritel dan distributor menunjukkan bahwa produk elektronik mulai mengalami perubahan harga sejak awal Mei 2026. Di pusat perdagangan elektronik Jakarta, kenaikan harga televisi dan AC terpantau berada di kisaran 2 persen hingga 5 persen.

"Di sentra perdagangan elektronik Jakarta, harga produk seperti televisi dan AC dilaporkan sudah naik sekitar 2 persen sampai 5 persen. Kenaikan ini terutama dipicu oleh membengkaknya biaya impor komponen dan barang jadi yang masih menggunakan dolar AS," ujarnya.

Imbas dari pergerakan harga yang cepat ini adalah penurunan volume penjualan yang cukup signifikan di lapangan. Beberapa pedagang bahkan melaporkan penurunan transaksi ritel hingga menyentuh angka 50 persen.

"Beberapa pedagang menyampaikan bahwa konsumen mulai menunda pembelian karena harga berubah cukup cepat dibanding bulan sebelumnya. Bahkan ada laporan penurunan penjualan ritel hingga sekitar 50 persen di beberapa titik perdagangan elektronik," kata Deny.

Selain barang kebutuhan pokok, perangkat digital seperti smartphone, laptop, dan alat rumah tangga pintar lainnya menjadi kategori yang paling rentan terhadap kenaikan harga lanjutan.

Untuk meminimalkan dampak gejolak kurs di masa depan, Apkonik mendorong penguatan basis industri komponen lokal. Peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dianggap sebagai solusi jangka panjang agar industri nasional lebih resilien.

"Dari sisi asosiasi, kami mendorong penguatan industri komponen dalam negeri dan peningkatan TKDN agar industri elektronik Indonesia tidak terlalu rentan terhadap gejolak kurs global di masa mendatang," tegas dia.

Pantauan langsung di kawasan Pasar Glodok pada Kamis (14/5/2026) menunjukkan adanya penyesuaian label harga pada sejumlah merek ternama. Pedagang menyebut kenaikan harga bervariasi tergantung pada model dan spesifikasi perangkat.

"Harga AC, terutama tipe 1 PK, sudah naik sekitar Rp 225.000. Contohnya AC merek ’S’ Low Watt yang sebelumnya dijual sekitar Rp 2,9 juta, kini naik menjadi sekitar Rp 3,12 juta hingga Rp 3,2 juta," kata seorang penjual bernama Tio.

Kenaikan serupa juga dirasakan pada sektor perangkat visual. Ryan, seorang penjual televisi di lokasi yang sama, menyatakan bahwa kenaikan harga sudah terjadi selama beberapa hari terakhir.

"Harga TV saat ini sudah naik sekitar 2 persen hingga 5 persen bulan Mei ini berkisar Rp 20.000 hingga Rp 50.000 untuk beberapa model, bahkan ada produk yang mengalami kenaikan signifikan hingga Rp 400.000 sampai Rp 450.000," ujar Ryan.

Tekanan inflasi ini tidak hanya dipicu oleh kurs, tetapi juga lonjakan biaya energi seperti BBM non-subsidi. Selain itu, gangguan rantai pasok global akibat ketegangan geopolitik di wilayah strategis turut memperberat ongkos logistik internasional.

Meskipun menghadapi tantangan kurs dan biaya produksi, ekonomi Indonesia secara umum diklaim masih memiliki daya tahan yang baik. Pada kuartal pertama 2026, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat mencapai 5,6 persen secara tahunan.

Artikel terkait

Rekomendasi