Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga mencapai level Rp17.407 pada perdagangan Senin (11/5/2026). Penurunan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah global serta rapuhnya sentimen ekonomi domestik yang menekan posisi mata uang Garuda di zona merah.
Berdasarkan laporan yang dilansir dari Suara, pelemahan di pasar spot tersebut tercatat sebesar 25 poin atau 0,14 persen dibandingkan penutupan sebelumnya pada Jumat lalu di posisi Rp17.382. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia menetapkan nilai rupiah pada angka Rp17.375 per dolar AS.
Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengidentifikasi bahwa kenaikan harga komoditas energi dunia menjadi penyebab utama tergerusnya kekuatan nilai tukar. Kondisi tersebut diperparah oleh kegagalan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan energi internasional.
"Rupiah akan terus tertekan seiring menguatnya dolar dan harga minyak mentah dunia," ujar Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.
Penurunan kinerja mata uang nasional juga dipengaruhi oleh kecemasan investor terhadap indeks kepercayaan konsumen dalam negeri yang diprediksi menurun dari 122.9 ke angka 122.0. Gejala ini mencerminkan berkurangnya optimisme publik terhadap stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan inflasi global.
Kondisi lesunya nilai tukar ini terjadi secara merata di kawasan regional Asia, di mana mayoritas mata uang negara tetangga turut mencatatkan koreksi. Won Korea Selatan mengalami penurunan terdalam sebesar 0,73 persen, diikuti oleh Baht Thailand yang menyusut 0,56 persen pada periode perdagangan yang sama.
| Mata Uang | Status Perubahan |
|---|---|
| Rupiah Indonesia | Melemah 0,14% |
| Won Korea Selatan | Melemah 0,73% |
| Baht Thailand | Melemah 0,56% |
| Yuan China | Menguat Tipis |
| Dolar Taiwan | Menguat Tipis |
Para pelaku pasar memproyeksikan pergerakan nilai tukar rupiah di sisa pekan ini akan terus berfluktuasi pada rentang Rp17.300 hingga Rp17.400. Tanpa adanya intervensi pasar atau munculnya sentimen positif yang signifikan, tren kejatuhan nilai mata uang diprediksi masih akan berlanjut.