Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyentuh level psikologis baru Rp17.500 sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir merosot 0,68 persen ke posisi 6.858,90 pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Gejolak pasar keuangan domestik ini dipicu oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran investor terhadap tinjauan indeks global MSCI.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan sebanyak 463 saham melemah dengan total transaksi mencapai Rp16,29 triliun. Sektor kesehatan menjadi pemberat utama indeks dengan koreksi 4,78 persen, diikuti sektor teknologi yang turun 4,08 persen di tengah aksi jual investor global.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menyatakan regulator tetap fokus pada penguatan integritas pasar meskipun terjadi gejolak sesaat. Penyesuaian ini dianggap sebagai bagian dari reformasi jangka panjang pasar modal nasional.
"Kalaupun ada penyesuaian jangka pendek, kita melihat ini sebagai short term pain lah. Tapi Insya Allah long term gain," ujar Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner OJK.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik mengakui adanya risiko pengurangan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI jika tidak ada emiten baru yang masuk. Kendati demikian, langkah pembenahan free float emiten akan terus didorong sesuai standar internasional.
"Kalau itu dilakukan oleh MSCI dan tidak ada saham baru yang masuk dalam MSCI, dalam jangka pendek mungkin saja bobot Indonesia turun. Tetapi itu adalah short term pain untuk long term gain," ujar Jeffrey Hendrik, Direktur Utama BEI.
Di pasar valuta asing, kurs JISDOR Bank Indonesia mencatat rupiah melemah ke Rp17.514 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.415. Tekanan ini selaras dengan penguatan indeks dolar AS (DXY) yang mencapai posisi 98,115 akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait jalur Strait of Hormuz.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak dunia dan ketidakpastian global menjadi faktor eksternal utama. Selain itu, ada permintaan dolar yang tinggi secara musiman untuk kebutuhan domestik.
"Dari domestik, meningkatnya kebutuhan dollar secara musiman seperti pembayaran ULN dan pembayaran deviden serta kebutuhan untuk ibadah haji mendorong peningkatan permintaan dolar di pasar domestik," ujar Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI.
Bank Indonesia menyatakan akan terus berada di pasar melalui intervensi pada pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Destry juga mencatat adanya aliran modal masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp61,6 triliun selama April sebagai bentuk kepercayaan investor.
"BI juga melihat confidence investor asing di aset portfolio terus membaik yang tercermin dari masuknya inflow, khususnya ke Pasar SBN dan SRBI selama bulan April sebesar Rp 61.6 triliun," kata Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI.
Analis Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Tiffani Safinia menambahkan bahwa pasar memproyeksikan suku bunga The Fed akan tetap tinggi di level 3,75 persen sepanjang tahun ini. Kondisi ini meningkatkan daya tarik aset aman (safe haven) dibandingkan mata uang pasar berkembang.
“Penguatan dolar AS masih didorong oleh ekspektasi suku bunga tinggi The Fed yang bertahan lebih lama, meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah, serta kenaikan harga minyak dunia yang meningkatkan tekanan terhadap rupiah,” kata Tiffani Safinia, Research & Development ICDX.
Isu transparansi dan struktur pasar modal yang disoroti MSCI turut meningkatkan kewaspadaan investor global terhadap aset Indonesia. Tiffani juga menyoroti beban fiskal yang mungkin timbul akibat pembengkakan subsidi energi saat nilai tukar terdepresiasi.
“Kombinasi faktor tersebut membuat tekanan terhadap rupiah menjadi lebih besar dibandingkan mata uang regional lainnya,” ungkap Tiffani Safinia, Research & Development ICDX.
Meskipun volatilitas diperkirakan tetap tinggi, pelemahan rupiah dinilai dapat memberikan keuntungan terbatas bagi sektor ekspor melalui peningkatan daya saing harga produk di pasar internasional.
“Secara umum, pasar saat ini melihat pergerakan rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen global dan arus modal jangka pendek. Selama ketidakpastian geopolitik masih tinggi dan arah suku bunga AS belum berubah signifikan, volatilitas rupiah diperkirakan masih akan tetap tinggi dalam jangka pendek,” ujar Tiffani Safinia, Research & Development ICDX.