Nilai tukar rupiah dibuka merosot 40 poin atau 0,23 persen ke level Rp17.746 per dolar AS di tengah fluktuasi indeks saham menjelang pidato ekonomi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR RI di Jakarta pada Rabu (20/5/2026).
Pelemahan mata uang Garuda terjadi beriringan dengan pergerakan variatif mata uang di kawasan Asia, di mana yen Jepang menguat 0,02 persen, yuan China menguat 0,01 persen, peso Filipina menguat 0,01 persen, dolar Singapura menguat 0,01 persen, sementara baht Thailand, won Korea Selatan, dan dolar Hong Kong kompak melemah 0,01 persen.
Kondisi kontras terlihat pada mata uang utama negara maju yang seluruhnya berada di zona merah, dengan penurunan pada euro Eropa sebesar 0,06 persen, poundsterling Inggris 0,06 persen, franc Swiss 0,11 persen, dolar Australia 0,06 persen, serta dolar Kanada 0,07 persen.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan mata uang domestik akan bergerak pada kisaran Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS sepanjang hari ini akibat pengaruh sentimen global dan domestik.
"Investor juga menantikan RDG BI sore ini yg apabila seperti yang diharapkan menaikkan suku bunga akan sedikit banyak mendukung rupiah," ujar Lukman Leong kepada CNNIndonesia.com.
Lukman Leong menambahkan bahwa depresiasi dipicu oleh ketidakpastian kesepakatan perdamaian Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak mentah, imbal hasil obligasi AS, dan indeks dolar AS.
Di sisi lain, Ketua DPR RI Puan Maharani menyatakan bahwa agenda penyampaian Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) 2027 oleh kepala negara merupakan langkah strategis bagi arah kebijakan pembangunan nasional.
"Kehadiran Bapak Presiden dalam menyampaikan KEM PPKF Tahun 2027 menjadi momentum yang penting dan strategis untuk menegaskan bahwa rancang bangun APBN 2027 diarahkan untuk memberikan manfaat nyata yang sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat Indonesia," ucap Puan Maharani saat membuka rapat di Gedung DPR seperti dilansir dari kompas.com.
Puan Maharani menekankan pentingnya KEM PPKF Anggaran 2027 sebagai landasan utama demi menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat.
"Yaitu pertumbuhan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan angka Produk Domestik Buruto yang tinggi semata," imbuh Puan Maharani.
Politisi PDI-P tersebut menjabarkan harapan agar kebijakan fiskal ke depan mampu menciptakan lapangan kerja baru, mendongkrak pendapatan masyarakat, mengentaskan kemiskinan, menekan kesenjangan sosial, serta memperkuat daya saing nasional.
"Serta memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh rakyat Indonesia," kata Puan Maharani.
Lebih lanjut, Puan Maharani memaparkan bahwa postur asumsi makro serta arah kebijakan fiskal ini bakal menjadi acuan krusial yang memberikan sinyal kepastian bagi para investor, pelaku usaha, pemerintah daerah, hingga pelaku pasar modal mengenai ruang gerak perekonomian pada tahun 2027.
"Untuk dapat merasakan manfaat dari pembangunan nasional, sehingga kehidupan rakyat semakin mudah dan sejahtera," tutur Puan Maharani.