Nilai tukar rupiah di pasar spot masih tertekan pada awal perdagangan Rabu pagi, seperti dikutip dari Money. Mata uang Garuda dibuka pada level Rp 17.738 per dollar AS, mengalami pelemahan sebesar 0,18 persen.
Posisi tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.706 per dollar AS. Situasi ini terjadi menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI).
Di tengah tekanan mata uang domestik, pelaku pasar saat ini sedang menantikan arah kebijakan suku bunga acuan atau BI-Rate. Langkah otoritas moneter tersebut dinilai bakal menentukan sentimen di pasar keuangan dalam negeri.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memperkirakan Bank Indonesia tetap mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen. Prediksi ini berbeda dengan konsensus pasar sebelumnya yang memperkirakan kenaikan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen.
Menurut Nafan, Bank Indonesia tidak akan mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga hanya untuk merespons pelemahan rupiah secara reaktif. Bank sentral diyakini lebih memilih strategi intervensi langsung di pasar valuta asing dan obligasi.
Langkah intervensi tersebut dinilai lebih seimbang bagi stabilitas ekonomi nasional. Kebijakan itu membuat BI tetap dapat menjaga stabilitas rupiah tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan ekonomi maupun stabilitas fiskal.
“BI sejatinya tidak akan mengorbankan ruang pertumbuhan ekonomi Indonesia dan stabilitas fiskal hanya untuk merespons pelemahan rupiah secara reaktif via suku bunga,” ujar Nafan.
“Oleh sebab itu, forecast kami untuk BI-Rate ialah tetap pada level 4,75 persen di tengah konsensus yang menetapkan kenaikan sebesar 25 bps menjadi 5,0 persen seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah,” paparnya.
Keputusan mempertahankan suku bunga akan menjadi sinyal bahwa otoritas moneter masih fokus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Fokus tersebut tetap dipertahankan di tengah tekanan global dan volatilitas pasar keuangan.
Sentimen Pidato Presiden Prabowo Subianto
Di sisi lain, pergerakan pasar juga dipengaruhi oleh agenda politik nasional. Investor tengah mencermati pidato arah kebijakan ekonomi Presiden Prabowo Subianto dalam sidang paripurna DPR yang berlangsung Rabu ini.
Pelaku pasar menunggu kejelasan terkait strategi pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Selain itu, arah kebijakan fiskal serta langkah konkret merespons tekanan pasar keuangan juga menjadi sorotan utama.
Nafan menilai peluang terjadinya technical rebound di pasar saham domestik masih terbuka jika pidato Presiden memberikan kepastian. Kebijakan yang berpihak pada stabilitas pasar akan menjadi sentimen positif bagi investor.
“Apabila pidato ini memberikan kepastian dan keberpihakan pada stabilitas pasar, peluang terjadinya technical rebound terbuka lebar. Sebaliknya, bila dinilai kurang konkret, tekanan jual bisa berlanjut,” tukas dia.
Pergerakan IHSG dan Saham di BEI
Dari pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menunjukkan tekanan pada perdagangan. Meskipun demikian, secara teknikal indeks mulai memasuki area oversold berdasarkan indikator Relative Strength Index (RSI) dan berhasil menguji target wave 5/A.
Indikator Stochastics K_D masih menunjukkan sinyal negatif bagi pergerakan indeks. Namun, volume perdagangan di bursa saham terpantau mulai mengalami kenaikan.
IHSG kemudian berbalik menguat pada perdagangan Rabu pagi sekitar pukul 09.51 WIB. Sebelumnya, indeks sempat bergerak di zona merah pada awal sesi perdagangan.
Data bursa mencatat IHSG naik 62,086 poin atau 0,97 persen ke level 6.432,765. Indeks dibuka di posisi 6.352,202 dan sempat menyentuh angka terendah di posisi 6.282,157.
Tekanan beli yang meningkat membuat indeks berbalik menguat hingga mencapai area tertinggi di level 6.433,372. Penguatan IHSG ini juga diikuti oleh membaiknya mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Tercatat sebanyak 363 saham bergerak menguat, sedangkan 231 saham lainnya mengalami pelemahan. Sementara itu, terdapat 141 saham yang bergerak stagnan tidak mengalami perubahan harga.
Aktivitas perdagangan di lantai bursa terpantau ramai dengan volume transaksi mencapai 8,230 miliar saham. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp 4,687 triliun dengan frekuensi perdagangan menyentuh angka 599.734 kali transaksi.