Mata uang rupiah mengalami pelemahan sebesar 30 poin atau 0,17 persen pada penutupan perdagangan Selasa (5/5/2026) hingga mencapai level Rp 17.424 per dollar Amerika Serikat. Penurunan nilai tukar ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah yang mengganggu stabilitas pasar keuangan global.
Kondisi pasar keuangan tertekan akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas pada awal pekan, dilansir dari Money. Insiden militer di kawasan Teluk dilaporkan telah merusak kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati oleh pihak-pihak terkait.
Laporan militer menyebutkan bahwa pasukan Amerika Serikat menghancurkan enam kapal serang kecil milik Iran di Selat Hormuz. Situasi semakin genting setelah infrastruktur energi di Uni Emirat Arab, termasuk terminal minyak di pelabuhan Fujairah, menjadi sasaran serangan pihak Iran.
"Militer AS mengatakan telah menghancurkan enam kapal serang kecil Iran selama pertempuran di selat tersebut. Ketegangan meningkat lebih lanjut setelah serangan Iran menargetkan infrastruktur di Uni Emirat Arab, termasuk terminal minyak di pelabuhan Fujairah," ujar Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi.
Ketidakpastian geopolitik tersebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia dan mendorong lonjakan harga komoditas. Investor kini mencermati kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui "Proyek Kebebasan" yang mengerahkan militer untuk mengawal kapal komersial di jalur pelayaran Teluk.
Selain faktor global, data domestik menunjukkan ketahanan ekonomi nasional dengan pertumbuhan sebesar 5,61 persen secara tahunan pada kuartal I 2026 menurut catatan Badan Pusat Statistik. Produk domestik bruto atas dasar harga berlaku tercatat mencapai angka Rp 6.187,2 triliun pada periode tersebut.
Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penggerak utama ekonomi yang didorong oleh peningkatan mobilitas masyarakat selama periode libur nasional. Pemerintah juga memberikan dukungan melalui berbagai stimulus seperti pencairan tunjangan hari raya dan diskon tiket transportasi untuk menjaga daya beli masyarakat.
Bank Indonesia saat ini mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,75 persen guna mengimbangi tekanan inflasi global. Sementara itu, sektor pariwisata mencatatkan pertumbuhan perjalanan wisatawan nusantara sebesar 13,14 persen secara tahunan yang diikuti lonjakan jumlah penumpang transportasi publik.