Nilai tukar rupiah di pasar spot berakhir melemah sebesar 0,39 persen ke posisi Rp 17.597 per dollar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Penurunan mata uang Garuda ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta tren penguatan indeks dollar AS di pasar global.
Analisis mengenai kondisi pasar menunjukkan bahwa pelemahan ini berkaitan erat dengan kombinasi tekanan eksternal dan domestik. Dilansir dari Money, indeks dollar AS menyentuh posisi 98,98 yang merupakan level tertinggi dalam dua pekan terakhir seiring meningkatnya permintaan aset aman.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penguatan dollar dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak mentah dunia. Hal ini terjadi di tengah latihan perang besar-besaran oleh Iran di Selat Hormuz serta insiden tenggelamnya kapal kargo di perairan Oman.
"Kondisi eksternal membuat dollar mengalami penguatan, kemudian harga minyak juga naik dan berdampak terhadap pelemahan mata rupiah," ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat. Federal Reserve diprediksi akan mempertahankan suku bunga di level tinggi sepanjang tahun 2026, yang diperparah dengan potensi perang dagang.
"Ada kemungkinan besar di tahun 2026 ini, bank sentral Amerika tidak akan menurunkan suku bunga. Ini mengindikasikan bahwa mempertahankan suku bunga lebih tinggi lagi ini akan berdampak terhadap penguatan indeks dollar, apalagi dibarengi dengan perang dagang nanti," kata Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.
Dari sisi domestik, kondisi pasar yang sedang libur panjang dalam rangka peringatan Hari Kenaikan Yesus Kristus dan cuti bersama membatasi ruang gerak intervensi. Bank Indonesia (BI) hanya dapat melakukan langkah stabilisasi melalui pasar internasional karena penutupan pasar lokal.
"Intervensi di pasar internasional itu tidak terlalu signifikan. Karena kita lihat bahwa liburnya pasar di Indonesia ini membuat tekanan yang begitu besar secara eksternal, sehingga membuat transaksi valuta asing di pasar internasional itu begitu luar biasa dampaknya," ucap Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.
Meskipun pasar domestik tutup, upaya stabilisasi BI mulai terlihat dari pergerakan kurs yang sempat menyentuh Rp 17.600 pada pagi hari sebelum menguat tipis sore harinya. Ibrahim menilai tindakan otoritas moneter tersebut merupakan langkah nyata untuk menjaga volatilitas selama masa libur.
"Ini artinya BI benar-benar melakukan intervensi di pasar internasional. Mungkin nanti kita akan berbicara berbeda pada saat pembukaan pasar di hari Senin," katanya Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.
Beban terhadap nilai tukar juga diperberat oleh tingginya volume impor minyak mentah Indonesia. Sebagian besar alokasi impor tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan subsidi bahan bakar minyak di dalam negeri.
"Permasalahan anggaran yang cukup besar untuk subsidi minyak mentah ini salah satu penyebab pelemahan rupiah," ucap Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.
Menghadapi tekanan yang berkelanjutan, muncul proyeksi mengenai langkah lanjutan dari otoritas moneter Indonesia. Penyesuaian suku bunga acuan dipandang sebagai opsi untuk membendung pelemahan lebih jauh.
"Ada kemungkinan besar Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga 25 sampai 50 basis point untuk menstabilkan rupiah," katanya Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.