Rupiah Melemah ke Level Rp 17.597 Per Dolar AS Akhir Pekan Ini

Rupiah Melemah ke Level Rp 17.597 Per Dolar AS Akhir Pekan Ini

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan hebat sepanjang pekan ini hingga ditutup pada level Rp 17.597 pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Dilansir dari Investasi, pelemahan mata uang Garuda dipicu oleh memanasnya tensi geopolitik Timur Tengah serta data ekonomi domestik yang beragam.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah mengawali pekan pada Senin (11/5) di posisi Rp 17.415 per dolar AS. Rekor terlemah sepanjang sejarah sempat tercatat pada Selasa di level Rp 17.514 per dolar AS sebelum berakhir di angka Rp 17.597 pada akhir pekan perdagangan pasar spot.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa eskalasi konflik antara AS dan Iran menjadi faktor eksternal utama yang menekan pasar global. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengganggu distribusi energi di Selat Hormuz yang memicu kenaikan harga minyak mentah dan inflasi global.

Selain masalah geopolitik, pelaku pasar mencermati kenaikan harga konsumen di Amerika Serikat yang mencapai 3,8 persen secara tahunan pada April 2026. Angka tersebut tercatat sebagai tingkat inflasi tertinggi sejak pertengahan tahun 2023.

"Inflasi inti juga berada di atas ekspektasi," ujar Ibrahim, Rabu (13/5/2026).

Kenaikan inflasi tersebut meredam ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed sehingga membuat imbal hasil aset berbasis dolar AS menjadi lebih kompetitif. Penguatan indeks dolar AS secara otomatis memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang termasuk Indonesia.

Sentimen negatif lainnya muncul dari dalam negeri terkait penurunan bobot Indonesia dalam indeks global MSCI yang berisiko memicu arus modal keluar. Namun, pemerintah menegaskan bahwa rasio utang Indonesia masih berada pada level 40,75 persen terhadap PDB, tetap di bawah batas aman undang-undang.

"Sejatinya jumlah utang pemerintah tersebut naik sebesar Rp 282,52 triliun dibandingkan posisi akhir Desember 2025 yang sebesar Rp 9.637,90 triliun," kata Ibrahim.

Bank Indonesia terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar spot, pasar sekunder SBN, hingga instrumen Non Deliverable Forward (NDF). Untuk pekan depan, nilai tukar rupiah diproyeksikan akan bergerak pada rentang harga Rp 17.420 hingga Rp 17.650 per dolar AS.

Artikel terkait

Rekomendasi