Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat merosot hingga menyentuh level terlemah sepanjang sejarah pada penutupan perdagangan Jumat (15/5/2026). Mata uang Garuda ditutup di posisi Rp 17.598 per dolar AS atau melemah sebesar 0,4 persen akibat tekanan global dan kondisi fiskal domestik yang kompleks.
Dilansir dari Nasional, tekanan terhadap mata uang nasional sempat membawa kurs menyentuh angka Rp 17.604 per dolar AS pada sesi pembukaan sebelum akhirnya sedikit terkoreksi. Penurunan nilai tukar ini terjadi di tengah upaya stabilisasi intensif yang dilakukan oleh Bank Indonesia melalui berbagai instrumen moneter.
Data menunjukkan cadangan devisa mengalami penurunan sekitar US$ 10 miliar sepanjang periode Januari hingga April 2026 sebagai dampak dari intervensi pasar. Bank Indonesia juga tercatat agresif menerbitkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan total outstanding mencapai Rp 957,91 triliun pada akhir April.
Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, menjelaskan bahwa posisi nilai tukar saat ini dipengaruhi oleh akumulasi faktor global dan persepsi investor terhadap kebijakan ekonomi nasional. Terdapat kekhawatiran pasar mengenai pelebaran defisit APBN serta daya saing Indonesia dibanding negara tetangga.
"Level Rp 17.500–Rp 17.600 per dolar AS mencerminkan kombinasi tekanan global, fiskal domestik, dan persepsi investor terhadap arah kebijakan ekonomi," ujar Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia.
Selain faktor fiskal, Yusuf menyoroti pentingnya konsistensi kebijakan pemerintah guna menjaga kepastian usaha. Investasi asing juga menjadi perhatian mengingat persaingan ketat dalam menarik modal dengan negara seperti Malaysia, India, dan Vietnam.
Di sisi lain, Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede menekankan perlunya Bank Indonesia menjaga ketersediaan likuiditas valuta asing dan daya tarik aset domestik. Ia menilai komunikasi kebijakan yang efektif menjadi kunci untuk meredam sentimen negatif di pasar keuangan.
"Jika tekanan rupiah berlanjut dan mengancam ekspektasi inflasi, peluang kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) semakin terbuka," ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom PermataBank.
Langkah menaikkan suku bunga acuan diprediksi memiliki risiko terhadap biaya dana dan pertumbuhan kredit nasional. Josua juga mengingatkan rencana pengaktifan kembali Bond Stabilization Fund (BSF) agar dikomunikasikan secara transparan untuk menghindari persepsi adanya tekanan fiskal yang berat.
"Tanpa komunikasi yang jelas, BSF bisa saja dipersepsikan sebagai sinyal tekanan fiskal atau kebutuhan pembiayaan yang tidak transparan, yang justru dapat memperburuk sentimen investor terhadap rupiah," ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom PermataBank.
Berdasarkan data kepemilikan asing pada SRBI, terdapat kenaikan porsi menjadi 20,06 persen pada April 2026 dari sebelumnya 15,60 persen di akhir tahun 2025. Sementara itu, porsi kepemilikan BI pada Surat Berharga Negara yang dapat diperdagangkan juga meningkat menjadi 25,50 persen.