Nilai tukar rupiah di pasar spot mengalami penurunan tajam hingga menyentuh posisi terlemah sepanjang masa pada penutupan perdagangan Rabu (3/6). Dilansir dari Investasi, mata uang garuda merosot 0,71 persen atau 127,5 poin ke level Rp 17.967 per dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan hari sebelumnya.
Data Bloomberg menunjukkan nilai tukar rupiah sebelumnya berada di posisi Rp 17.839 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan rontoknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 4,11 persen atau terpangkas 254 poin ke level 5.941,06 pada penutupan perdagangan yang sama.
Faktor eksternal seperti peningkatan ketegangan di Timur Tengah yang mengerek harga minyak mentah dunia menjadi pemicu utama koreksi mata uang domestik. Selain itu, memburuknya sentimen risiko di pasar keuangan global membuat investor asing melakukan aksi jual bersih di pasar saham dalam negeri.
Ketidakpastian geopolitik tersebut mendorong pelaku pasar untuk mengalihkan dana mereka ke aset-aset yang dinilai lebih aman. Lonjakan harga energi global juga memicu kekhawatiran peningkatan inflasi bagi negara importir minyak seperti Indonesia.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong menyatakan bahwa fluktuasi rupiah untuk perdagangan Kamis (4/6) masih didominasi oleh sentimen dari luar negeri karena minimnya rilis data ekonomi domestik.
"Tidak ada data ekonomi dari domestik. Dari luar, malam ini investor menantikan data ISM Service AS," terang Lukman, Rabu (3/6/2026).
Data dari Negeri Paman Sam tersebut diharapkan dapat memberikan indikasi arah kebijakan moneter bank sentral AS ke depan. Untuk pergerakan selanjutnya, nilai tukar rupiah diproyeksikan akan berfluktuasi pada kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.100 per dolar AS.