Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi mengalami tekanan hingga menyentuh level Rp17.390 sampai Rp17.440 pada perdagangan Selasa (5/5/2026). Depresiasi ini dipicu oleh eskalasi konflik di Iran serta penutupan Selat Hormuz yang mengganggu stabilitas pasar energi global.
Dilansir dari Market, mata uang Garuda sebelumnya sudah terkoreksi sebesar 0,33 persen ke posisi Rp17.385 pada Senin (4/5/2026) sore berdasarkan data RTI Infokom. Sepanjang hari tersebut, fluktuasi rupiah bergerak pada rentang Rp17.303 hingga Rp17.387 per dolar AS.
Pelemahan ini juga terlihat pada Selasa siang di mana rupiah terdepresiasi 0,25 persen ke level Rp17.434 per dolar AS. Data RTI Infokom mencatat nilai tukar sempat menyentuh titik terendah di posisi Rp17.385 per dolar AS sejak pasar dibuka pagi hari.
Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa berkecamuknya perang di Iran berdampak langsung pada kenaikan harga minyak mentah. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap peningkatan laju inflasi global yang memberatkan mata uang regional.
Faktor geopolitik lain yang menjadi sorotan adalah ketegangan antara Ukraina dan Rusia yang terus mengganggu rantai produksi minyak di Eropa Timur. Dari sisi domestik, Ibrahim menyebutkan bahwa indeks manufaktur (PMI) Indonesia mengalami kontraksi akibat lonjakan harga bahan baku dan energi.
"Akibat dari kenaikan harga minyak, membuat impor barang-barang yang cukup mahal, sehingga berdampak terhadap manufaktur," katanya, Senin (4/5/2026).
Tingginya harga impor barang modal tersebut menjadi beban tambahan bagi sektor industri nasional di tengah tren penguatan dolar AS. Selain rupiah, mayoritas mata uang di Asia juga terpantau bergerak di zona merah terhadap mata uang Negeri Paman Sam tersebut.
| Mata Uang | Status Perdagangan | Persentase |
|---|---|---|
| Rupiah Indonesia | Melemah | 0,33% |
| Baht Thailand | Melemah | 0,46% |
| Won Korea | Melemah | 0,25% |
| Dolar Singapura | Melemah | 0,05% |
| Yuan China | Melemah | 0,06% |
| Dolar Hong Kong | Melemah | 0,03% |
| Dolar Taiwan | Menguat | 0,11% |
Meskipun sebagian besar mata uang Asia terkoreksi, dolar Taiwan tercatat sebagai satu-satunya yang mampu bertahan menguat di tengah sentimen negatif global. Investor kini cenderung mengalihkan aset ke instrumen yang lebih aman akibat ketidakpastian jalur distribusi minyak dunia.