Rupiah Melemah ke Rp 17.717 Per Dolar AS akibat Defisit Transaksi Berjalan

Rupiah Melemah ke Rp 17.717 Per Dolar AS akibat Defisit Transaksi Berjalan

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 0,28 persen ke level Rp 17.717 per dolar AS di pasar spot pada Jumat (22/5/2026) akibat tingginya arus modal keluar serta pelebaran defisit transaksi berjalan.

Pelemahan mata uang domestik ini juga tercermin dari data Jisdor Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan penurunan sebesar 0,24 persen secara harian menuju level Rp 17.717 per dolar AS, sebagaimana dilansir dari Investasi.

Kondisi ini terjadi di tengah langkah agresif Bank Indonesia yang baru saja mengerek suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar.

Pasar saat ini bersikap defensif karena daya redam kebijakan dalam negeri tersebut harus berkejaran dengan derasnya capital outflows dan sentimen hawkish eksternal FOMC.

“BI diproyeksikan akan terus bersiap di pasar untuk melakukan intervensi triple intervention guna menjaga agar pelemahan rupiah tidak menciptakan efek kejut lanjutan di awal pekan perdagangan,” ujar Sutopo Widodo, Presiden Komisaris HFX International Berjangka.

Sutopo menilai pergerakan awal pekan akan sangat bergantung pada agresivitas BI mengamankan pasokan likuiditas valas menyusul hambatan negosiasi AS-Iran terkait Selat Hormuz yang mengokohkan indeks Dolar AS (DXY) di level tertinggi enam minggunya sekitar 99,3.

Tekanan internal juga datang dari pelaku pasar yang menguji efektivitas instrumen moneter baru serta memantau pelebaran defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit) yang menyentuh level terdalam dalam enam tahun terakhir.

Untuk perdagangan hari Senin, ia memproyeksikan pergerakan mata uang Garuda masih berada dalam fase konsolidasi dengan rentang target di kisaran Rp 17.650 hingga Rp 17.780 per dolar AS.

Faktor lain yang menekan pergerakan nilai tukar domestik adalah berlanjutnya sentimen risk-off di pasar ekuitas menyusul rilis data makroekonomi dalam negeri.

“Untuk senin, rupiah akan dipengaruhi oleh perkembangan seputar Timur Tengah, dimana Iran diharapkan memberikan respon terhadap proposal AS dalam waktu dekat ini,” ucap Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures.

Lukman menambahkan bahwa minimnya rilis data penting domestik maupun global pada sepekan depan membuat perhatian pasar tertuju pada sentimen regional dan rilis data inflasi PCE Amerika Serikat pada hari Kamis.

Berdasarkan proyeksi penutupan pasar ekuitas dan komoditas global, mata uang rupiah pada hari Senin (25/5/2026) diperkirakan bergerak pada kisaran Rp 17.650 hingga Rp 17.800 per dolar AS.

Artikel terkait

Rekomendasi