Rupiah Melemah ke Rp 17.801 per Dolar AS Akibat Sentimen Domestik

Rupiah Melemah ke Rp 17.801 per Dolar AS Akibat Sentimen Domestik

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami penurunan di pasar spot pada perdagangan Rabu (27/5/2026) karena tertekan oleh minimnya minat investor asing dan kekhawatiran pasar terhadap kebijakan sentralisasi ekspor nasional.

Berdasarkan data Bloomberg yang dilansir dari Investasi, mata uang garuda merosot 0,03 persen secara harian ke level Rp 17.801 per dolar AS. Penurunan ini melanjutkan tren negatif dari hari Selasa (26/5/2026) saat rupiah ditutup melemah 0,30 persen pada posisi Rp 17.796 per dolar AS.

Kondisi pasar saham dalam negeri yang masih bergerak negatif mengindikasikan bahwa minat risiko dari pemodal luar negeri belum pulih sepenuhnya. Faktor pengetatan kebijakan moneter melalui peningkatan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) pada pekan lalu juga dinilai belum mampu memulihkan kepercayaan pasar, bahkan memicu ekspektasi adanya kenaikan lanjutan.

“Hal ini membuat investor cenderung wait and see dan menghindari SBN,” ujar Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong.

Situasi tersebut diperparah oleh besarnya defisit neraca transaksi berjalan serta respons kurang positif terhadap rencana ekspor satu pintu lewat Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kedua dan inflasi inti Personal Consumption Expenditures (PCE) dari Amerika Serikat.

“Kecuali ada perkembangan positif seputar proposal damai AS dan intervensi Bank Indonesia, sulit bagi rupiah untuk menguat,” terang Lukman Leong.

Untuk perdagangan hari Kamis (28/5/2026), pergerakan kurs rupiah diproyeksikan olehnya akan berada pada kisaran Rp 17.700 hingga Rp 17.850 per dolar AS.

Di sisi lain, kebijakan satu pintu ekspor komoditas utama melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) disorot karena memicu kekhawatiran dari lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global dan Moody's. S&P Global menilai sentralisasi tersebut sulit diimplementasikan secara cepat dan berisiko mengganggu arus perdagangan, sementara Moody's melihat adanya potensi ketidakseimbangan mekanisme pasar.

“Ini membuat masalah tersendiri sehingga wajar arus modal asing keluar dari Indonesia. Ini yang membuat rupiah melemah dalam perdagangan hari ini,” ujar Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi.

Ibrahim Assuaibi menambahkan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis (28/5/2026) masih akan dibayangi oleh sentimen kebijakan sentralisasi ekspor tersebut serta dinamika ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ia memperkirakan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif di rentang Rp 17.790 sampai Rp 17.850 per dolar AS.

Artikel terkait

Rekomendasi