Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan di pasar spot pada Jumat (29/5/2026). Dilansir dari Investasi, mata uang berlambang Garuda ini merosot sebesar 0,20 persen secara harian menuju level Rp 17.881 per dolar AS.
Data Bloomberg menunjukkan akumulasi pelemahan rupiah mencapai 0,91 persen dalam sepekan terakhir dari posisi Rp 17.717 per dolar AS pada Jumat (22/5). Sementara itu, sejak awal tahun atau secara year to date (ytd), rupiah sudah terdepresiasi sebesar 6,91 persen dari level Rp 16.725 per dolar AS pada Jumat (2/1/2026).
Kondisi ini mendapat perhatian dari para pengamat ekonomi nasional yang menyoroti efektivitas kebijakan moneter. Kenaikan Bank Indonesia (BI) Rate dinilai hanya mampu menahan pelemahan sesaat tanpa membalikkan arah kurs secara jangka panjang.
“Sementara sumber tekanan rupiah berasal dari banyak jalur: impor energi, arus keluar modal, kebutuhan dolar musiman, tekanan fiskal, dan keraguan terhadap arah kebijakan,” ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.
Peningkatan suku bunga acuan dinilai belum cukup kuat karena tantangan eksternal dan internal yang kompleks. Berdasarkan catatan pasar, pergerakan mata uang Asia lain juga tertahan di sekitar level terendah akibat inflasi impor.
“Jika ketiga syarat ini terpenuhi, rupiah bisa mulai bergerak lebih stabil pada semester II, tetapi jika salah satunya gagal, tekanan ke Rp 18.000 tetap terbuka,” terang Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.
Tiga prasyarat stabilitas tersebut meliputi penurunan tensi Timur Tengah, stabilitas aset rupiah oleh BI, serta penguatan disiplin fiskal dan kebijakan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA). Faktor musiman seperti pembayaran dividen dan utang luar negeri juga ikut menekan pasar keuangan.
“Jadi, rupiah semester II tidak hanya ditentukan oleh BI, tetapi oleh kombinasi antara pasar global, APBN, ekspor, impor, dan kepercayaan investor terhadap konsistensi kebijakan,” ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.
Pada paruh kedua tahun ini, Josua memproyeksikan pergerakan nilai tukar rupiah akan berada pada kisaran Rp 17.300 sampai Rp 17.900 per dolar AS. Namun, target tersebut membutuhkan dukungan dari meredanya sentimen geopolitik global.
“Belanja pemerintah harus memperkuat produktivitas, ekspor, dan basis penerimaan negara agar rupiah memperoleh dukungan fundamental yang lebih kokoh,” ucap Syafruddin Karimi, Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Andalas.
Syafruddin mengidentifikasi lima faktor penentu masa depan rupiah, termasuk arah suku bunga global, kredibilitas BI, kinerja eksternal, persepsi risiko sovereign, hingga kualitas kebijakan fiskal. BI sendiri telah menaikkan policy rate ke level 5,25 persen untuk merespons pasar.
Syafruddin memproyeksikan nilai tukar rupiah pada semester II-2026 berpotensi bergerak lebih rendah pada kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.400 per dolar AS. Angka ini sejalan dengan pergerakan pasar forward dan non-deliverable forward (NDF) yang mendekati Rp 18.000 per dolar AS.