Rupiah Melemah ke Rp17.395 Akibat Konflik AS-Iran

Rupiah Melemah ke Rp17.395 Akibat Konflik AS-Iran

Mata uang rupiah dibuka mengalami depresiasi sebesar 0,07 persen atau turun 13 poin ke level Rp17.395 per dolar AS pada perdagangan Senin (11/5/2026). Penurunan ini terjadi bersamaan dengan penguatan indeks dolar AS yang naik 0,17 persen ke posisi 98,06, dilansir dari Market.

Kondisi ini melanjutkan tren negatif dari perdagangan Jumat (8/5) lalu, di mana mata uang Garuda ditutup melemah 49 poin ke posisi Rp17.382 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah diprediksi masih akan berlanjut sepanjang hari oleh pengamat pasar.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dan ditutup pada rentang Rp17.380 hingga Rp17.430 per dolar AS. Faktor utama yang menekan nilai tukar berasal dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

"Tuduhan Iran bahwa AS melanggar gencatan senjata selama sebulan di antara mereka, sementara AS mengatakan serangannya adalah balasan setelah tembakan Iran pada hari Kamis terhadap kapal angkatan lautnya yang melintas melalui selat tersebut," kata Ibrahim, dikutip Senin (11/5/2026).

Eskalasi di Selat Hormuz tersebut berisiko memicu kenaikan harga minyak dunia yang secara historis memperkuat posisi dolar AS terhadap mata uang negara berkembang. Selain faktor geopolitik, pasar juga tengah mencermati perbedaan pandangan di internal The Fed mengenai arah suku bunga acuan.

Dari sisi domestik, perhatian pasar tertuju pada kondisi fiskal Indonesia setelah utang pemerintah tercatat mencapai Rp9.920,42 triliun per 31 Maret 2026. Angka tersebut menunjukkan kenaikan hampir 3 persen dibandingkan posisi Desember 2025 yang sebesar Rp9.637,9 triliun.

"Kendati rasio utang relatif masih di bawah standar internasional yakni 60% terhadap PDB, berbagai lembaga internasional turut memerhatikan rasio utang maupun bunganya terhadap penerimaan," ucap Ibrahim, Pengamat Mata Uang.

Data APBN hingga kuartal I/2026 mencatatkan defisit sebesar Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara itu, realisasi pembiayaan utang telah menyentuh Rp258,7 triliun atau sekitar 31,1 persen terhadap PDB.

Artikel terkait

Rekomendasi