Nilai tukar rupiah merosot ke posisi Rp17.614 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat (15/5/2026) pagi akibat tekanan indeks dolar yang menguat. Mata uang Garuda tercatat melemah sebanyak 84 poin atau setara 0,48 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Kondisi ini memperpanjang tren pelemahan setelah pada Kamis (14/5/2026) rupiah sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar AS. Lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) ke titik tertinggi dalam setahun menjadi faktor utama yang memicu tekanan besar terhadap mata uang domestik.
Analis pasar uang Lukman Leong menjelaskan bahwa sentimen pasar dipengaruhi oleh optimisme terhadap pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump. Namun, ia mencatat bahwa kepastian hasil pertemuan tersebut masih dinantikan oleh pelaku pasar global.
"Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi AS ke level tertinggi dalam setahun turut menekan rupiah. Kondisi itu dipicu data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan pasar sehingga meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed," ujar Lukman Leong, Analis pasar uang.
Lukman memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang hari ini akan berada pada rentang Rp17.500 hingga Rp17.650 per dolar AS. Pelemahan ini juga selaras dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia dan negara maju yang terpantau bergerak di zona merah.
Di tingkat regional, won Korea Selatan memimpin pelemahan sebesar 0,50 persen, diikuti ringgit Malaysia 0,39 persen, dan baht Thailand 0,28 persen. Sementara itu, mata uang global seperti poundsterling Inggris dan dolar Australia masing-masing terkoreksi 0,28 persen dan 0,47 persen.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian menyoroti beban berat yang dihadapi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar tanpa mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi. Dari sisi fiskal, pemerintah juga dihadapkan pada pilihan sulit terkait beban subsidi energi dalam APBN.
"all out" tanya Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas.
Berdasarkan data perdagangan yang dilansir dari CNN Indonesia, sentimen negatif dari data inflasi Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi pasar terus menjadi faktor dominan yang menguatkan dolar terhadap mata uang dunia lainnya.