Rupiah Melemah ke Rp17.640 Per Dolar AS akibat Penguatan Indeks DXY

Rupiah Melemah ke Rp17.640 Per Dolar AS akibat Penguatan Indeks DXY

Nilai tukar rupiah melemah sebesar 0,23 persen ke posisi Rp17.640 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (21/5/2026). Berdasarkan data Refinitiv yang dilansir CNBC Indonesia, mata uang Garuda kembali tertekan setelah sebelumnya sempat menguat di level Rp17.600 per dolar AS.

Pergerakan rupiah sepanjang hari menunjukkan volatilitas tinggi setelah dibuka pada level Rp17.600 per dolar AS dan sempat merosot hingga Rp17.685 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) mengalami kenaikan sebesar 0,22 persen ke level 99,308 hingga pukul 15.00 WIB.

Penguatan indeks dolar global dipicu oleh meningkatnya ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS atau The Federal Reserve. Data LSEG menunjukkan peluang sebesar 70 persen bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang.

Sebagai langkah antisipasi eksternal, Bank Indonesia sebenarnya telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen melalui Rapat Dewan Gubernur pada Rabu (20/5/2026). Kebijakan pre-emptive ini diambil untuk menjaga jangkar kebijakan moneter domestik di tengah ketidakpastian pasar global.

Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian memberikan tanggapan positif terkait respons tegas dari Bank Indonesia tersebut.

"Keputusan BI sudah tepat. Ini bukan sekadar kenaikan suku bunga, ini adalah pernyataan bahwa policy anchor Indonesia masih dijaga. Dalam situasi seperti ini, Bank Indonesia tidak boleh terlambat. Kalau terlambat, biaya stabilisasi akan jauh lebih mahal," ujar Fakhrul, Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia.

Langkah pengetatan moneter dari Bank Indonesia ini diproyeksikan mampu menjadi titik balik yang meredam tekanan berat mata uang domestik. Fakhrul menambahkan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah kini berpotensi menguat secara bertahap menuju level keseimbangan yang baru.

"Rupiah sudah selesai fase overshooting-nya. Dengan respons BI yang tegas, pasar sekarang punya jangkar baru. Level Rp17.300 menjadi titik berhenti pertama, dan apabila koordinasi kebijakan berjalan baik, rupiah bisa bergerak menuju Rp16.800," ujar Fakhrul, Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi