Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot ke level Rp17.683 per dolar AS di pasar spot pada perdagangan Jumat pagi, 22 Mei 2026. Penurunan nilai mata uang Garuda ini dipicu oleh sentimen rilis data domestik serta meningkatnya tensi geopolitik global.
Perdagangan di pasar spot menunjukkan mata uang Indonesia tersebut terkoreksi tipis sebesar 28 poin atau setara 0,16 persen, dilansir dari Suara. Nilai ini menunjukkan penurunan dibandingkan posisi penutupan pada hari Kamis kemarin yang sempat bertahan di level Rp17.667 per dolar AS.
Faktor domestik yang memengaruhi pergerakan ini adalah laporan ekonomi yang akan dikeluarkan oleh bank sentral. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memberikan analisis terkait pergerakan nilai tukar ini.
"Rupiah diperkirakan berkonsolidasi terhadap dolar AS. Investor wait and see rilis data neraca transaksi berjalan Q1 Indonesia," katanya saat dihubungi Suara.com.
Kondisi pasar juga dipengaruhi oleh situasi internasional yang melibatkan hubungan antara Timur Tengah dan Amerika Serikat. Pelaku pasar dilaporkan masih mencermati perkembangan politik luar negeri tersebut sebelum mengambil langkah strategis investasi.
"Investor juga masih mengantisipasi respon Iran terhadap proposal AS yang terbaru. Tentunya, sentimen ini membuat mata uang Garuda masih bakal tertekan," kata Lukman.
Menurut proyeksi analis, pergerakan nilai tukar mata uang nasional akan bergerak dalam rentang tertentu sepanjang perdagangan hari ini.
"Rupiah masih diperkirakan tertekan di range 17600-17750," imbuhnya.
Pelemahan nilai tukar terhadap greenback tidak hanya dialami oleh Indonesia, melainkan juga melanda mayoritas mata uang di kawasan Asia. Won Korea Selatan mencatatkan penurunan terdalam setelah anjlok sebesar 0,25 persen, diikuti oleh baht Thailand yang merosot 0,12 persen.
Mata uang regional lainnya seperti dolar Singapura mengalami tekanan sebesar 0,09 persen, yen Jepang terkoreksi 0,08 persen, dan ringgit Malaysia turun 0,05 persen. Dolar Hong Kong juga terpantau melemah tipis sebesar 0,01 persen.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia justru berhasil menguat terhadap dolar AS di perdagangan yang sama. Dolar Taiwan memimpin penguatan sebesar 0,14 persen, disusul peso Filipina yang naik 0,08 persen, serta yuan China yang menguat tipis sebesar 0,02 persen.