Rupiah Melemah ke Rp17.717 Per Dolar AS Akibat Tekanan Global

Rupiah Melemah ke Rp17.717 Per Dolar AS Akibat Tekanan Global

Nilai tukar rupiah di pasar spot melemah hingga menyentuh posisi Rp17.717 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (22/5/2026) dipicu oleh penguatan indeks dolar AS, kenaikan harga minyak mentah dunia, serta tingginya tensi geopolitik global.

Kondisi penurunan mata uang Garuda yang dilansir dari Investasi tersebut terjadi bersamaan dengan indeks dolar AS (DXY) yang bertengger di level 99,23. Berlanjutnya tren penguatan mata uang Negeri Paman Sam diprediksi masih akan membayangi pergerakan rupiah.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan indeks dolar AS akan bergerak pada rentang support 97,60 dan resistance 101,00 sepanjang pekan ini.

“Prediksinya seperti beberapa minggu terakhir, DXY masih cenderung mengalami penguatan,” ujar Ibrahim, Minggu (24/5/2026).

Ibrahim menilai lonjakan dolar AS bakal memperberat beban rupiah hingga berisiko menembus kisaran Rp18.000 per dolar AS dalam jangka pendek. Selain mata uang, ketegangan geopolitik akibat eskalasi perang Rusia–Ukraina serta konflik di Timur Tengah ikut memicu kenaikan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ke rentang US$92,60 hingga US$105,50 per barel.

“Israel masih melakukan penyerangan ke Lebanon Selatan dan Jalur Gaza sehingga memicu kembali kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah,” kata Ibrahim.

Pasar saat ini juga tengah mengamati negosiasi antara AS dan Iran mengenai peluang pembukaan Selat Hormuz yang dapat memengaruhi harga minyak dan emas global. Faktor domestik berupa defisit neraca transaksi berjalan yang struktural akibat ketergantungan impor minyak mentah sekitar 1,5 juta barel per hari dinilai menjadi akar melemahnya rupiah.

“Akar masalah pelemahan rupiah adalah defisit transaksi berjalan yang bersifat struktural, bukan temporer,” ujarnya.

Tingginya volume impor energi membuat rupiah rentan saat harga minyak dunia melonjak dan dolar AS menguat. Situasi ini berpotensi menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang mengasumsikan kurs rupiah sebesar Rp16.500 per dolar AS dan harga minyak US$70 per barel.

“Ketika harga minyak berada di atas US$ 90 per barel, government membutuhkan tambahan anggaran yang cukup besar,” kata Ibrahim.

Artikel terkait

Rekomendasi