Rupiah Melemah ke Rp17.803 per Dolar AS 26 Mei 2026 Imbas Tekanan Kurs Asia

Rupiah Melemah ke Rp17.803 per Dolar AS 26 Mei 2026 Imbas Tekanan Kurs Asia

Tekanan terhadap mata uang domestik kian tidak terbendung pada penutupan pasar keuangan awal pekan ini. Nilai tukar rupiah dilaporkan finis terperosok ke level Rp17.803 per dolar AS pada sesi perdagangan Selasa, 26 Mei 2026, seperti diberitakan oleh Suara.

Nilai mata uang Garuda tersebut tercatat melemah cukup dalam. Rupiah susut 87,9 poin atau setara 0,40 persen jika dibandingkan dengan posisi pada penutupan hari sebelumnya.

Kejatuhan nilai tukar rupiah ini bergulir selaras dengan tren koreksi yang melanda mayoritas mata uang di kawasan Asia. Di lantai bursa valuta asing, yuan China terpantau turun 0,06 persen, peso Filipina melemah 0,18 persen, dan ringgit Malaysia ikut terdepresiasi sebesar 0,34 persen.

Kondisi serupa juga menimpa dolar Singapura yang turun tipis 0,05 persen, yen Jepang yang terpangkas 0,19 persen, serta dolar Hong Kong yang terkoreksi 0,02 persen.

Di tengah kepungan tren negatif tersebut, hanya won Korea Selatan yang menjadi anomali. Mata uang ini membukukan penguatan tunggal sebesar 0,49 persen terhadap dolar AS.

Merosotnya nilai tukar rupiah langsung memicu alarm waspada di sektor riil. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI secara terbuka mengakui bahwa gejolak kurs ini mulai dikeluhkan secara masif oleh para pelaku industri manufaktur nasional, terutama bagi korporasi yang operasional pabriknya masih bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, memaparkan bahwa depresiasi kurs yang berkepanjangan ini memiliki konsekuensi linier terhadap lonjakan pengeluaran modal (capital expenditure) perusahaan. Hal ini terjadi karena komponen bahan baku industri dalam negeri memiliki porsi ketergantungan impor yang cukup besar.

"Sekarat 24 persen bahan baku industri itu berasal dari impor. Tentu pergerakan kurs menjadi salah satu faktor yang sangat memengaruhi aktivitas serta kesinambungan rantai pasok industri kita," ungkap Febri saat memberikan keterangan pers di Kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa.

Febri menambahkan, gelombang keluhan dari asosiasi pengusaha mulai bermunculan seiring dengan kalkulasi biaya pengapalan dan pengadaan barang modal asing yang melonjak otomatis begitu dikonversi ke dalam mata uang dolar AS.

"Ada lah pasti, keluhan ya. Cuman kan ya kita kan masih lihat bagaimana fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar itu. Keluhannya seperti apa, ya pasti ngeluh lah semuanya. Harga ini naik kan, nilai tukar naik, pasti juga, bahan baku juga naik, dan itu juga akan membebani biaya produksi," imbuhnya memaparkan kondisi riil pelaku usaha.

Kendati beban pengeluaran pabrik meningkat tajam, Kemenperin menjelaskan bahwa situasi tersebut tidak serta-merta bisa langsung direspons oleh korporasi dengan menaikkan harga jual produk jadi di tingkat konsumen.

Para pelaku industri saat ini tengah dihadapkan pada dilema pelik untuk menjaga daya beli masyarakat serta mempertahankan daya saing di pasar.

"Industri juga harus mempertimbangkan secara cermat antara biaya produksi dengan harga produk yang mereka jual. Karena production cost dengan pricing itu kan hai hal yang berbeda," urai Febri.

Hingga saat ini, pihak Kemenperin belum bersedia merinci daftar klasifikasi sektor industri mana saja yang menderita kerugian paling parah.

Namun, Febri memberikan catatan penegasan bahwa semua kelompok usaha yang struktur produksinya mengandalkan jalur impor otomatis menjadi klaster yang paling rentan tergerus margin keuntungannya.

Sebagai langkah penyelamatan taktis guna mengurangi tingkat ketergantungan ekosistem industri terhadap mata uang paman sam, Kemenperin mengimbau dengan sangat agar para pelaku usaha mengoptimalkan pemanfaatan skema Local Currency Transaction (LCT).

Fasilitas penyelesaian transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal yang diinisiasi oleh Bank Indonesia (BI) ini diharapkan dapat menjadi bantalan efektif, sehingga penyelesaian perdagangan bahan baku antarnegara tidak lagi sepenuhnya tersandera oleh keperkasaan dolar Amerika Serikat.

Artikel terkait

Rekomendasi