Rupiah Melemah ke Rp17.879 per Dolar AS Akibat Tensi Geopolitik

Rupiah Melemah ke Rp17.879 per Dolar AS Akibat Tensi Geopolitik

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat merosot hingga menyentuh level Rp17.879 per dolar AS pada perdagangan Selasa pagi, 2 Juni 2026.

Pelemahan mata uang Garuda sebesar 74 poin atau 0,42 persen dari penutupan sebelumnya ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan rilis data manufaktur Amerika Serikat yang melampaui estimasi pasar.

Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip dari insight.kontan.co.id, rupiah pada pasar spot sebenarnya sempat menguat 0,43 persen ke posisi Rp17.805 per dolar AS pada Senin, 1 Juni 2026. Namun, laporan cnnindonesia.com menunjukkan pergerakan mata uang Asia cenderung bervariasi pada Selasa pagi, di mana yuan China menguat 0,02 persen dan ringgit Malaysia bergerak stabil.

Sebaliknya, peso Filipina melemah 0,03 persen, dolar Singapura turun 0,01 persen, yen Jepang terkoreksi 0,03 persen, won Korea Selatan terdepresiasi 0,16 persen, dan dolar Hong Kong melemah 0,01 persen. Data jambi.antaranews.com juga mencatat pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa pagi sempat melemah 54,50 poin atau 0,31 persen ke level Rp17.859 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya.

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menjelaskan bahwa penguatan dolar AS terjadi setelah pihak Iran mengeluarkan pernyataan yang memicu kekhawatiran pasar global.

"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yang menguat merespons pernyataan Iran yang menghentikan perundingan damai dengan Amerika Serikat dan berencana menutup penuh Selat Hormuz. Penguatan dolar AS juga didukung data manufaktur AS yang lebih kuat dari perkiraan," ujar Lukman Leong kepada CNNIndonesia.com.

Lukman memproyeksikan pergerakan nilai tukar rupiah berada dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.

"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yang menguat merespons pernyataan Iran yang menghentikan perundingan damai dengan AS dan berencana untuk sepenuhnya menutup Hormuz," kata Lukman Leong kepada ANTARA dalam kesempatan terpisah.

Ia juga menambahkan faktor ekonomi dari luar negeri yang turut memperkokoh posisi mata uang Paman Sam tersebut terhadap mata uang global.

"Penguatan dolar AS juga didukung oleh data manufaktur yang lebih kuat dari perkiraan. Perkirakan kisaran Rp17.800 - Rp17.900," ungkap Lukman Leong.

Situasi konflik internasional ini dinilai menaikkan indeks dolar AS mendekati level psikologis 100 dan memicu spekulasi kenaikan harga minyak dunia.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dengan kisaran di Rp17.800 - Rp17.950 dipengaruhi oleh risiko geopolitik global adanya ketidakpastian kesepakatan penyelesaian konflik AS dan Iran yg berakibat index dolar naik mendekati 100 dan menaikkan ekspektasi kenaikan harga minyak,” jelas Rully Nova, Analis Bank Woori Saudara kepada ANTARA.

Menurut Rully, pergerakan rupiah juga tertahan oleh sejumlah tantangan domestik seperti kondisi fiskal pemerintah, ketidakpastian arah kebijakan, serta tren inflasi yang berlanjut. Sementara itu, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi melalui insight.kontan.co.id menyebut pasar sedang mencermati implementasi kebijakan baru Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam yang berlaku mulai 1 Juni 2026.

Sebelumnya, finance.detik.com melaporkan nilai tukar dolar AS bertengger di level Rp17.881 per dolar AS pada Sabtu, 30 Mei 2026, yang diprediksi berpotensi menembus angka Rp18.000 pada pekan berikutnya.

Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad memaparkan bahwa pelemahan rupiah ini berimbas pada kenaikan harga bahan baku impor yang dapat memicu inflasi, serta memaksa Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan hingga ke tingkat 5,25 persen.

"Misalnya produk elektronik, kemudian beberapa produk pangan seperti katakanlah kedelai dan sebagainya, itu kan pasti ikutan naik. Elektronik akan naik karena sebagian komponennya itu impor. Pokoknya produk-produk impor itu akan naik dan itu akan menyebabkan import inflation," jelas Tauhid Ahmad kepada detikcom.

Kenaikan suku bunga tersebut dinilai akan berdampak langsung pada sektor kredit dan pembiayaan masyarakat kelas menengah.

"Otomatis suku bunga di kita akan semakin tinggi, mulai merangkak naik terutama untuk suku bunga pinjaman. Misalnya untuk KPR semakin mahal, untuk kredit konsumtif semakin naik, termasuk juga untuk kredit investasi juga akan semakin mahal. Saya kira konsekuensinya seperti itu," terangnya.

Untuk mengantisipasi tekanan ekonomi ini, masyarakat kelas menengah disarankan mulai membatasi pengeluaran untuk produk-produk konsumtif dari luar negeri.

"Hindari ya karena harga-harga barang yang tadi saya sebut naik berarti kan harus agak sedikit ketat gitu ya untuk barang-barang yang konsumtif. Terutama barang-barang yang berasal dari impor," jelas Tauhid Ahmad.

Ia juga menyarankan agar masyarakat yang ingin mengambil pembiayaan atau cicilan beralih ke sistem bunga tetap guna menghindari fluktuasi suku bunga perbankan.

"Kalau mereka punya cicilan ya cari cicilan-cicilan yang katakanlah bunganya tuh fix gitu ya yang mereka bisa jangkau, jangan yang floating. Kalau ada floating ya berarti kenaikan tingkat suku bunga, dia ikut kena. Kalau dia harus cicil misalnya kendaraan, untuk rumah dan sebagainya, cari yang fix. Cari yang manageable bagi mereka gitu," paparnya.

Selain strategi pengetatan pengeluaran, penambahan sumber pemasukan baru juga menjadi langkah krusial agar daya beli masyarakat tidak tergerus.

"Sekarang kelas menengah sudah mulai mencari income tambahan apapun bentuknya. Karena kalau hanya mengendalikan konsumsi tapi pendapatan tidak ada upaya tambahan maka juga bisa kalah," kata Tauhid Ahmad.

Ia menambahkan bahwa sektor jasa menjadi salah satu alternatif yang paling banyak diambil oleh kelas menengah untuk menambah pendapatan harian.

"Karena itu memang harus cari peluang-peluang usaha atau income lainnya di sektor jasa dan sebagainya yang bisa menambah pendapatan mereka. Mungkin kelas menengah ini kan banyak yang juga ya tambahannya jadi ojol atau jualan dan sebagainya," sambungnya.

Imbauan senada disampaikan oleh Founder dan Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira yang meminta masyarakat bersiap menghadapi potensi penurunan ekonomi.

"Kelas menengah harus menyiapkan payung sebelum hujan. Beli yang perlu-perlu saja untuk kebutuhan harian. Jangan tergoda promosi, apalagi barang-barang impor," tutur Bhima Yudhistira.

Artikel terkait

Rekomendasi