Nilai tukar rupiah mengalami penurunan sebesar 0,50 persen ke level Rp18.126 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari Senin (8/6/2026) karena tertekan penguatan dolar AS secara global.
Pelemahan mata uang Garuda sebesar 90 poin dari posisi penutupan sebelumnya yang berada di level Rp18.036 per dolar AS ini tercatat berdasarkan data Bloomberg, seperti dilansir dari Suara.
Kombinasi sentimen eksternal dan domestik memicu investor kembali memburu dolar AS sehingga menekan posisi mata uang lokal.
"Rupiah melemah terhadap dolar AS yang menguat tajam setelah data pekerjaan AS yang lebih baik dari perkiraan dan sentimen domestik menekan rupiah," kata Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong.
Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut mendorong pelaku pasar mencari aset aman (safe haven) yang berimbas pada tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang.
"Rupiah sampai sore ini akan melemah ke level 18.000-18.150," ujar Lukman.
Tekanan terhadap dolar AS ini juga melanda sejumlah mata uang Asia lain, seperti ringgit Malaysia yang merosot 0,92 persen, dolar Taiwan terkoreksi 0,44 persen, peso Filipina melemah 0,33 persen, baht Thailand turun 0,17 persen, yen Jepang tergelincir 0,02 persen, dan dolar Hong Kong melemah tipis 0,003 persen.
Sebaliknya, beberapa mata uang kawasan mencatatkan penguatan dengan won Korea Selatan naik 0,58 persen, yuan China menguat 0,07 persen, dan dolar Singapura terapresiasi tipis 0,01 persen.