Rupiah Melemah ke Rp17.719 Per Dolar AS Imbas Kenaikan Harga Minyak

Rupiah Melemah ke Rp17.719 Per Dolar AS Imbas Kenaikan Harga Minyak

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah di pasar domestik pada Selasa (19/5/2026) akibat lonjakan harga minyak mentah dunia yang tertahan di atas 100 dolar AS per barel. Tekanan global tersebut memicu pembengkakan beban subsidi energi dan mempersempit ruang fiskal Indonesia.

Pergerakan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat mata uang rupiah merosot ke posisi Rp17.719 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan dengan posisi pada hari sebelumnya yang berada di level Rp17.666 per dolar AS.

Kondisi pasar komoditas global saat ini sedang tertekan setelah stok minyak komersial menurun cepat dengan sisa persediaan untuk beberapa pekan akibat konflik Timur Tengah. Pelepasan cadangan strategis pada Maret 2026 sebesar 2,5 juta barel per hari dinilai tetap terbatas, sementara gangguan pasokan di Selat Hormuz terus mempercepat pengurangan inventaris global.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menjelaskan situasi domestik yang turut memengaruhi pergerakan mata uang rupiah menjelang pengumuman kebijakan bank sentral.

"Rupiah pada perdagangan hari ini melemah dipengaruhi oleh faktor domestik menanti hasil RDG BI (Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia) akan diumumkan besok dan ruang fiskal yang masih terbatas akibat subsidi yang membengkak seiring tren kenaikan harga minyak dunia yang masih di atas 100 dollar," ujar Rully Nova selaku Analis Bank Woori Saudara kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia sendiri diproyeksikan bakal menetapkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis points (bps) menjadi 5 persen guna meredam tekanan nilai tukar.

"Dengan asumsi kurs di APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) Rp16.500 maka tambahan subsidi Rp150 triliun dengan kurs yang terus meningkat dan tidak ada kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) subsidi," kata Rully Nova.

Faktor eksternal lain datang dari berlanjutnya kenaikan ekspektasi inflasi yang memicu lonjakan yield obligasi pemerintah AS ke level tertinggi baru sepanjang tahun 2026. Yield obligasi AS tenor 2 tahun berada di angka 4,105 persen, tenor 10 tahun pada 4,631 persen, dan tenor 30 tahun menyentuh 5,159 persen.

"Pelemahan rupiah selain karena kebutuhan dolar musiman, saat ini juga dipengaruhi oleh minat pelaku pasar asing yang menurun terhadap obligasi pemerintah sejalan dengan selisih yield yang menipis dibanding dengan obligasi pemerintah AS," ungkap Rully Nova.

Artikel terkait

Rekomendasi