Rupiah Melemah ke Rp 17.597 Per Dolar AS akibat Tekanan Global

Rupiah Melemah ke Rp 17.597 Per Dolar AS akibat Tekanan Global

Nilai tukar rupiah mengalami penurunan hingga mencapai level terendah baru di posisi Rp 17.597 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan spot Jumat (15/5/2026). Komposisi pelemahan mata uang domestik ini tercatat merosot sebesar 0,39 persen dibandingkan hari sebelumnya, seiring kombinasi tekanan faktor eksternal dan domestik yang dilansir dari Investasi.

Pergerakan nilai tukar bahkan sempat menyentuh angka Rp 17.602 per dolar AS pada sesi intraday. Tekanan global dipicu oleh tingkat inflasi tahunan AS yang menembus 3,8 persen hingga mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter dan memperkuat indeks dolar terhadap mata uang negara berkembang.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai tingginya inflasi global berimbas langsung pada keperkasaan mata uang AS.

"Inflasi AS masih tinggi dan itu menguatkan dolar," ujar Ibrahim Assuaibi, Pengamat mata uang.

Kondisi tersebut mengakibatkan modal global beralih meninggalkan pasar negara berkembang termasuk Indonesia karena aset berbasis dolar menjadi lebih kompetitif. Di sisi lain, pasar domestik diramaikan oleh kecemasan terkait perlambatan sektor manufaktur, ketidakpastian regulasi royalti tambang, persepsi risiko fiskal, serta dinamika politik berupa teguran Presiden Prabowo Subianto kepada Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menambahkan bahwa kenaikan harga minyak dunia turut memperparah keadaan karena memicu risiko inflasi baru serta memperbesar beban subsidi energi nasional.

"Tekanan global dan domestik membuat rupiah semakin rentan," kata Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.

Sentimen negatif pasar dalam negeri dipertegas oleh hasil lelang Surat Berharga Negara (SBN) terbaru yang mencatatkan tingkat permintaan terendah dalam kurun waktu lebih dari satu tahun. Fenomena ini menunjukkan adanya peningkatan persepsi risiko terhadap aset investasi di Indonesia, sehingga pelaku pasar menuntut adanya imbal hasil yang lebih tinggi.

Artikel terkait

Rekomendasi