Rupiah Melemah Lima Persen Lebih Terhadap Mata Uang Asia

Rupiah Melemah Lima Persen Lebih Terhadap Mata Uang Asia

Nilai tukar mata uang rupiah mengalami depresiasi hingga menembus angka di atas lima persen tidak hanya terhadap dolar Amerika Serikat, melainkan juga terhadap mayoritas mata uang di kawasan Asia. Penurunan nilai tukar mata uang Garuda ini dipicu oleh kombinasi sentimen global serta tekanan dari dalam negeri di Makassar pada Minggu (24/5/2026).

Kondisi keterpurukan mata uang domestik tersebut disampaikan langsung oleh Ekonom Josua Pardede, seperti dilansir dari Suara. Menurut penjelasannya, pergerakan nilai tukar rupiah tercatat menunjukkan tren negatif yang meluas di pasar keuangan Asia.

"Rupiah hanya menguat terhadap terhadap rupee India. Selebihnya kita melemah terhadap semua mata uang Asia," ujar Josua saat paparan media gathering dengan Bank Indonesia di Makassar, Minggu (24/5/3026).

Faktor penyebab pelemahan ini ditegaskan tidak murni berasal dari dinamika eksternal global semata. Berbagai persoalan dan sentimen negatif dari dalam negeri turut memberikan beban berat bagi pergerakan rupiah sepanjang tahun ini.

"Jadi, jangan terus menyalahkan global. Dan jangan marah-marah pada saat wartawan menanyakan kalau ada permasalahan domestik," jelas Josua, Ekonom.

Lebih lanjut, ia menerangkan adanya kebijakan tata kelola baru yang memusatkan transaksi ekspor komoditas tertentu di bawah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ikut memengaruhi sentimen pasar. Di sisi lain, para investor juga cenderung memindahkan aset mereka untuk mengantisipasi rencana pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada bulan Juni mendatang.

"Nah tidak bisa kita pungkiri bahwa memang ibaratnya kalau kita lihat tekanannya itu memang kita ditempa oleh beberapa tekanan ya. Dari global dan juga dari domestik. Dari globalnya tentunya kita bisa, kita nggak bisa bohong bahwa ada dari global dan juga dari domestik," pungkas Josua, Ekonom.

Artikel terkait

Rekomendasi